Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2018

BIG FISH (2003), Salah Satu Karya Mengharukan dari Tim Burton

Big Fish Pic Karya Mengharukan dari Tim Burton
Official Poster Big Fish (2003)

Apabila mendengar nama Tim Burton, yang terbesit di benak kita pasti sebuah film fantasi dengan tokoh-tokohnya yang imajinatif. Begitupun ketika saya memasukan film Big Fish ke dalam movie wishlist, ada harapan besar untuk melihat salah satu keunikan dari film ini. Namun setelah selesai menonton, saya baru menyadari ada yang berbeda dengan film buatan sutradara asal Inggris itu.
Diperankan oleh beberapa pemain yang cukup sering wara wiri di perfilman Hollywood, seperti Ewan McGregor, Marion Cotillard, Helena Bonham Carter. Ada juga peran kecil yang dimainkan oleh Miley Cyrus yang saat itu masih dikenal dengan nama aslinya, yaitu Destiny Cyrus.

Sekelumit Sinopsis

Film ini mengisahkan renggangnya hubungan seorang ayah dengan putranya. Edward Bloom yang merupakan ayah dari William Bloom, sangat suka bercerita hal-hal fantastis tentang perjalanan hidupnya. Semenjak kecil, William terus dijejali dengan kisah-kisah di luar nalar yang konon pernah dialami sendiri oleh ayahnya. Namun demikian seiring dengan bertambah dewasanya Will, ia mulai menyadari bahwa semua itu hanyalah omong kosong. Will merasa, ayahnya sengaja membuat dongeng itu untuk menutupi sesuatu.
Puncak pertengkaran mereka terjadi setelah Edward mendongengkan kisah tersebut di hadapan para tamu undangan saat pesta pernikahan Will. Sejak saat itu mereka jarang berkomunikasi secara langsung selama tiga tahun. Hingga akhirnya Will mendapati kabar bahwa waktu hidup ayahnya sudah tak lama lagi. Will memutuskan untuk menemui ayahnya dan mencoba mengorek kenyataan dari cerita ayahnya.

Sudut Pandang Pribadi

Dibalik petualangan ajaib yang dialami seorang Edward Bloom, sungguh saya dulu tak pernah menyangka, bahwa genre film ini bukanlah sekedar fantasi yang biasa menjadi andalan seorang Tim Burton. Big Fish adalah film drama yang penuh dengan makna filosofis.
Banyak yang menyebutkan bahwa Edward Bloom memiliki masalah psikologis dimana ia tak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Mungkin hal itu memang benar adanya menilik dari beberapa perkataan yang pernah terlontar dari mulut Edward sendiri. Akan tetapi, saya pribadi memaknai apa yang dilakukannya merupakan cara mengajar yang unik dari seorang Ayah kepada anaknya.
Edward lebih memilih memotivasi putranya melalui kisah petualangan fantasi agar kelak ia menjalani hidup layaknya sebuah petualangan. Big fish bukanlah sebuah ikan raksasa seperti yang digambarkan dalam kilas balik perjalanan hidup Edward muda (diperankan oleh Ewan McGregor). Akan tetapi, Ikan Besar ini adalah bentuk pencapaian seseorang akan apa yang telah didambakan dan diimpikan dalam hidupnya. Air itu sendiri bisa jadi pemaknaan kehidupan yang begitu luas dan harus diarungi oleh seorang manusia. Edward Bloom menggambarkan kesuksesan hidupnya dalam kisah yang dikemas menjadi dongeng menarik bagi seorang anak.
Saat Edward tua sudah merasa tak berdaya, ia berendam dalam bak mandinya dengan penuh kesedihan dan berkata bahwa dia kekeringan. Buat saya, adegan ini merefleksikan bagaimana seorang Edward rindu menaklukan petualangan dan tantangan besar. Rasa hausnya masih begitu besar, tetapi kanker yang diderita memaksanya untuk berhenti.

Adegan Berendam di Bak Mandi

Ciri-ciri Kesuksesan Dari Edward Bloom

Kalau dulu waktu kuliah sering dengar ceramah tentang orang sukses, rasanya apa yang ada dalam diri Edward Bloom terlalu mirip dengan ciri-ciri yang sering disebutkan. Dari yang saya tangkap ada beberapa poin, yaitu:
a    1)  Optimis
b    2)  Ambisius
c    3)  Berani Menghadapi Tantangan
     Adegan: Saat menghadapi raksasa
Raksasa dari Goa Hantu
d    4) Cerdik dan Taktis
e    5)  Pantang Menyerah
     Adegan: Saat berusaha memenangkan hati Sandra Templeton
Menanam Bunga Semalaman Demi Pujaan Hati

f     6) Supel dan Mudah Berteman
     Adegan: Berteman dengan banyak orang yang ia temui di sepanjang cerita
g    7) Tak Pernah Tinggal di Zona Aman
           Adegan: Saat memutuskan meninggalkan kota Spectre

Masih banyak lagi beberapa sifat serta karakter yang ditonjolkan oleh seorang Edward Bloom dan mungkin luput dari penilaian saya. Akhir kisah film ini cukup menarik dan penuh makna buat saya pribadi. Maka dari itu, saya putuskan memasukan film ini sebagai salah satu jajaran film favorit yang ga bosan-bosannya saya putar. (Ai)

Jumat, 05 Oktober 2018

Review Marenta part.2 Cireng Banjir

pic review marenta cireng banjir
Marenta Isi Cireng Banjir

Oke kali ini aku balik lagi di part ke-2 untuk mengulas salah satu produk makanan dengan merek Marenta, milik Muhammad Alvin Faiz. Sebelumnya aku sudah pernah bahas Marenta rasa seblak banjir. Nah, kali ini aku mau review yang rasa Cireng Banjir.

Dengar-dengar sih yang varian rasa ini dibilang paling enak dan best seller. Kalau dibandingkan dengan rasa cuanki soto dan seblak basah yang memiliki keterangan netto 85 gram, rasanya untuk varian yang satu ini aku ga menemukan keterangan nettonya. Tapi memang bobotnya kerasa lebih berat dari dua rasa tersebut.


Isi dan Petunjuk Pengolahan

Waktu di buka di dalamnya terdiri dari; 1) cireng basah dengan kemasan vacuum; 2) pangsit dan pilus; 3) bubuk cabai; 4) bumbu dengan warna hitam pekat; dan 5) Sendok Plastik.

gambar review marenta cireng banjir

foto ulasan marenta rasa cireng banjir


Untuk cara pembuatannya, cireng harus digoreng terlebih dahulu hingga benar-benar kering. Kemudian tuang air panas ke dalam gelas kemasan yang sudah dicampur dengan bumbu basah dan bubuk cabai. Setelah itu masukan, cireng beserta topping pangsit dan pilusnya.


Gambar ulasan soal Marenta Rasa Cireng Banjir
Cireng yang Sudah Digoreng dan Siap Nyemplung

Review Rasa

Awalnya aku memasukan bumbu basah hitamnya terlebih dahulu karena ingin merasakan rasanya seperti apa. Ternyata rasanya manis dan sedikit asam. Mirip dengan kuah bakso yang dicampur saos tomat dan kecap dan rasanya kurang gurih. Tapi setelah memasukan bubuk cabainya perlahan-lahan, rasanya jadi semakin enak. Mungkin bubuk cabainya ada campuran garamnya.



Setelah dicemplung dalam Kuah Panas Berbumbu
gambar pembahasan marenta rasa cireng banjir
Hasil Akhir

Untuk perbandingan rasa, dibandingkan cuanki soto dan seblak basah yang sudah kucoba sebelumnya, cireng banjir ini emang yang paling enak. Hanya saja, kuahnya cukup berminyak karena bawaan dari cireng gorengnya. Kayaknya sih minyak dari cirengnya harus ditiriskan dengan bantuan tissu. 
Pada petunjuk penyajian memang disarankan untuk menambah topping jeruk nipis, mungkin tujuannya untuk mengurangi rasa berminyak pada kuahnya. Tapi aku sih ga nambahin soalnya perasaan udah agak asem kuahnya.
Ohya aku ga terlalu banyak membubuhkan bubuk cabenya soalnya aku pribadi emang ga kuat pedas. Kalo cabenya dituang semua, warna kuahnya akan jauh lebih merah.

Kesimpulan

Rasa marenta ini emang bener yang paling enak diantara yang lainnya. Ntah kenapa aku ga pernah kepikiran ada cireng yang bisa dinikmati dengan bumbu kuah yang pedas. Tapi bisa jadi Alvin ini terinspirasi dari model batagor kuah.
Dari segi efektivitas menurutku tetap sama seperti review seblak banjir sebelumnya. Makanan ini sangat cocok bagi mereka yang malas atau ga punya waktu untuk meracik cemilan seperti ini. Tapi kalo untuk dibawa traveling, jelas sangat tidak praktis.

Oke segitu saja ulasan dariku tentang Marenta Cireng Banjir. Semoga cukup membantu memberi gambaran rasa untuk kalian yang berniat untuk membelinya. (Ai)

Kamis, 04 Oktober 2018

Mencoba Review Marenta part.1 Seblak Banjir


Pic Review Marenta Seblak Banjir
Marenta Seblak Banjir

Halo sobat food lovers yang suka sama makanan kekinian. Gara-gara kebanyakan nonton youtube, aku ga sengaja ngeliat salah satu food vlogger mengulas produk makanan bernama Marenta. Ternyata produk ini milik M. Alvin Faiz, yaitu anak ulama kondang Arifin Ilham.

Kebetulan aku beli dari olshop terpercaya dengan harga 12.500 per kemasan. Aku beli 4 buah: 1 cuanki soto, 2 cireng banjir, dan 1 seblak banjir. Cuma nih kayaknya kalo yang cuanki soto aku ga bisa review soalnya demikian udah abis baru aku mikir buat bahas ini ke blog 😅. Yaudah aku mulai review yang ada aja deh dimulai dari Seblak Banjir.

Dari Segi Kemasan

Kalau dari segi kemasan menurutku desain makanan ini menarik banget, ga murahan, udah gitu ntah kenapa kayak kecium samar-samar aroma makanan instan yang enak. Dari segi info nama, slogan, petunjuk memasak sampai expire date semuanya tercantum. Ga ketinggalan segel plastik yang nyelimutin makanan ini cukup keras dan rapat jd kemungkinannya kecil para pasukan semut bisa nyerbu ke dalamnya. Dan hal ini cukup penting karena menurutku kemasan mie instan ngetop aja masih bisa dijebol sama semut.


Isi Kemasan

Dari segi isi, seblak banjir ini kira-kira terdiri dari 3 bumbu dan satu bungkus seblak dengan berbagai macam topping, juga sendok plastik. Tiga bumbu tersebut diantaranya 1) bumbu basah yang sepertinya campuran bawang, cabai dan kencur; 2) Bubuk cabai; 3) Bumbu perasa bubuk. Sementara  untuk isi seblak kering terdiri dari: 1) Kerupuk seblak jingga; 2) Macam-macam batagor seperti otak-otak, bakso, tahu dan pangsit; 3) Mie kering; dan terakhir 4) Makaroni.

pic mengulas seblak banjir marenta


Review Rasa

Setelah aku benar-benar mengikuti petunjuk pembuatan dari a sampai z. Hasil penampakannya jadi kayak nyemek gitu. Beberapa makanan keliatan rentan hancur seperti makaroni dan mie. Untuk jenis batagornya cukup pas menurutku dari segi kematangan. Hanya saja  kerupuk seblaknya masih belum lembek sebagian. Jadi kerupuk yang berhasil lembek itu karena bentuknya agak tipis, tapi kalo yang tebal masih cukup alot.

gambar review seblak banjir marenta
Petunjuk Kemasan

Dari segi aroma sejujurnya kencurnya terlalu menyengat 😞 mungkin harusnya aku ga masukin semua bumbu basahnya. Buat menyiasati, aku ngabisin semua isian seperti batagor dan mie, baru sisa kerupuknya kerebus lagi dengan teflon biar lebih lunak.

image review seblak banjir marenta
Seblak yang Sudah Jadi


KESIMPULAN

Dari sisi positifnya, aku sangat mendukung karya anak bangsa seperti ini. Menurutku rasa seblak ini so much better dari segi rasa ketimbang merek seblak instan yang pernah aku coba sebelumnya.  Hanya saja, menurutku ini jatuhnya ga cocok jadi seblak instan. Kerupuk acinya harus direbus terpisah dulu baru disatukan dan direndam dalam air mendidih. 
Dari segi efektivitas, seblak ini sangat cocok bagi mereka yang males bikin seblak sendiri, tapi kalau dibawa untuk perjalanan jelas hasil fisinishing-nya ga akan maksimal.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, aku tetap mengacungkan jempol untuk Alvin yang berusaha menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja melalui produknya yang satu ini. Harapanku, semoga produk marenta ini akan mengalami peningkatan untuk ke depannya dan semakin mudah untuk didapatkan di mini market terdekat. (Ai)

Kamis, 27 September 2018

Kekecewaan Terhadap MV ‘Kiss My Lips’ Kwon BoA

Pic Kecewa Pada MV Kiss My Lips
BoA dalam MV Kiss My Lips (2015)

Oke, sebelum mulai ngeluarin sedikit unek-unek, seperti biasa aku harus mengawali topik ini dengan sedikit pendahuluan. Disini aku tidak mengomentari bagus atau tidaknya video klip ini. Tapi, aku mau berkomentar soal penempatan karakter BoA sebagai bintang utama dalam video klip ini yang rasanya kok tidak ada bedanya dengan penari latarnya.

Meski ga ngerti bahasa Korea, dari judulnya aja aku tau lagu ini memang menjurus ke arah seductive. Pada tahun rilis MV ini (2015), usia BoA emang udah terbilang ga muda lagi di pasaran musik K-pop. Ga heran kalau karakter dewasa emang harus ditonjolkan sama wanita kelahiran 5 November 1986 ini.

Buat aku yang pernah ngefans dan cukup tahu beberapa sepak terjangnya sejak dia awal debut. Rasanya video klip ini seperti bukan bentuk penghargaan atas karirnya yang gemilang. Mungkin banyak yang ga sadar kalau BoA sebenarnya salah satu artis Korea yang telah berjasa membuka jalan bagi Kpop menuju kancah internasional. Ga heran kalau dia dapat gelar Queen of Kpop.

Di mataku sebagai orang awam, dalam video klip ini penampilan BoA begitu paripurna dan memukau. Tarian BoA cukup berbeda dari video klip sebelumnya yang kerap menampilkan skill dance tingkat dewa. Aku rasa ga ada penonjolan skill tarian dalam video klip ini, meski kita semua tahu bahwa BoA terkenal sebagai seorang dancer yang sangat mumpuni.


Gambar Kecewa Pada MV Kiss My Lips
Tetap Cantik di Usia Kepala 3


Salah Fokus

Aku melihat penari latar yang aktif yang mengitari BoA menggunakan makeup yang sama mencoloknya, berjoget sama bagusnya, dan aku bisa melihat mereka semua memiliki wajah yang cantik dan badan yang bagus, walau tentunya tidak menyaingi dari segi suara.






Inilah yang membuat aku keberatan, kenapa tampilan video klip ini terkesan seperti video girlband dimana pesona seluruh personil perlu diekspos dalam satu frame. Meski BoA tidak terlihat buruk, ketimbang bintang utama dia malah lebih mirip seperti leader dengan baju yang lebih tertutup. Aku juga kurang bisa menikmati harmoni dalam tarian ini, karena koreografi antara BoA dan penari latar cenderung sama.


cuplikan kecewa pada MV Kiss My Lips BoA



image kecewa pada MV Kiss My Lips
Gerakan Aerobik untuk Ibu2 Sosialita
Sebenarnya, rasanya banyak yang pengen aku ungkapin soal kekecewaanku pada video klip ini. Cuma aku ga nemu kata-kata yang pas buat menggambarkannya. Kira-kira itulah beberapa pendapat dari kacamataku sendiri. Mungkin orang lain memiliki pendapat yang berbeda dan tidak merasakan pemikiran yang sama. Buat aku pribadi, BoA pantas dapat porsi yang lebih dalam setiap video klipnya karena dia itu seorang Queen. (Ai) 

Sinopsis Film Hocus Pocus (1993)

Official Poster

Lagi-lagi aku mau menceritakan salah satu film masa kecilku. Judulnya, yaitu Hocus Pocus (1993). Waktu aku SD, film ini pernah ditayangkan di Indosiar pada malam hari.

Kenapa aku bahas film lama melulu? Soalnya kalau komenin film-film baru aku serahin ke Indi aja. Bukan apa-apa, dia pasti udah nonton duluan dan aku mungkin nontonnya baru beberapa tahun kemudian. 😋


Sinopsis Hocus Pocus (1993)

Oke, balik lagi ke Hocus Pocus. Film ini menceritakan seorang anak laki-laki bernama Max Dennison yang pindah dari kota Los Angeles ke kota Salem. Umumnya remaja macam Max, agak sulit menerima kenyataan terhadap perubahan lingkungan. Terlebih LA dan Salem adalah dua kota yang sudah jelas berbeda dari segi ukuran dan karakter. Sekelumit cerita yang terkenal dari Salem adalah kota dengan kepemilikan sejarah soal sihir.

Dalam film ini, warga kota Salem hidup dengan mempercayai kisah tiga saudari penyihir yang dikenal sebagai Sanderson bersaudara. Ketiga penyihir itu digantung oleh penduduk Salem sekitar 300 tahun lalu, dikarenakan suka memangsa anak kecil. Sebagai orang yang berasal dari kota besar seperti LA, tentunya Max berpandangan skeptis akan hal tersebut.

Di tengah kekesalannya terhadap semua hal yang ada di kota tersebut, Max nyatanya malah jatuh hati kepada teman sekelasnya yang bernama Allison. Pada malam Halloween, tanpa terduga Max malah menjadi dekat dengan gadis tersebut berkat Dani, adik perempuannya yang rewel.

Malam Halloween yang dilalui berbuah petaka karena Max telah menyepelekan sebuah ramalan Sanderson bersaudara tentang seorang virgin (perawan/ perjaka) yang akan menyalakan black light candle. Apesnya hal itu benar-benar telah membangkitkan ketiga wanita penyihir tersebut.


image sinopsis hocus pocus
Lilin Pengungkap Status Keperjakaan
Sebelum matahari terbit dan lilin tersebut redup, Winifred, Mary dan Sarah yang merupakan Sanderson bersaudara harus berhasil mengumpulkan anak-anak di kota Salem agar mereka bisa hidup abadi.


Tentang Film Hocus Pocus (1993)

Ini adalah film kedua masa kecilku yang menurutku agak similiar sama film Death Becomes Her (1992) yang pernah aku bahas sebelumnya Klik Disini. Keduanya sama-sama black comedy alias cerita yang harusnya ngeri, malah bikin ngocok perut. Jangan bayangin adegan hukuman mati Sanderson bersaudara bakal menyeramkan, yang ada malah pengen ketawa saking kocaknya.


gambar sinopsis hocus pocus 1993
Dicekik Gara2 Keceplosan
pic sinopsis hocus pocus (1993)
Ga Ada Sapu Terbang, Gagang Pel dan Vacuum Cleaner pun Jadi

screenshot sinopsis hocus pocus (1993)
Tiga Penyihir yang Culture Shock


Film ini disutradrai oleh Kenny Ortega yang juga pernah menyutradarai film franchise musikal berjudul High School Musical. Maka dari itu ga heran kalau film ini memiliki adegan musikal, dimana para pemeran Sanderson saudara benar-benar bernyanyi.

Soal suara, Bette Midler yang memerankan Winifred Sanderson emang paling oke punya. Ga heran juga soalnya beliau emang punya pengalaman di panggung Broadway. Diantara Sanderson bersaudara, tokoh Sarah yang diperankan oleh Sarah Jessica Parker kini lebih dikenal dengan perannya di serial TV, Sex and the City (1998 - 2004).

Hocus Pocus menjadi salah satu film yang aku simpan karena masih suka bolak balik kutonton. Ntah kenapa komedinya masih terasa cocok aja sama seleraku. Aku menyukai film ini bukan cuma karena komedinya, melainkan juga sebagai pengingat masa kecil. (Ai)

Rabu, 26 September 2018

Telat Kepincut Drama Korea Descendants of the Sun



Adegan Iconic Drama Korea Descendants of the Sun


Oke, sebelum membahas film yang biasa disingkat Dots ini, aku ingin menyampaikan sedikit pendahuluan. Dots merupakan drakor ketiga dari Song Hye Kyo yang benar-benar kusimak setelah seri Endless Love (Autumn in My Heart) dan Full House. Setelah menonton film yang berjumlah 16 episode ini aku pengen bilang, sepertinya ini adalah salah satu serial drama korea dengan budget yang terhitung besar. Ga heran sepanjang episodenya sering bersliweran produk-produk sponsor bahkan di adegan paling menegangkan sekalipun. Dimulai dari fast food, mobil canggih yang bisa nyetir sendiri, produk jahe merah seruput, aplikasi booking hotel, coffee shop, choco pie, jam tangan canggih, dan masih banyak lagi produk lainnya.

Mungkin ini bukan model cerita plot twist yang lumrah digunakan banyak drakor dewasa ini. Dots sendiri merupakan gabungan dari drama romance dan action. Untuk pertama kalinya aku baru lihat drama korea dengan tema bencana alam. Tak main-main, setting lokasinya benar-benar terlihat total dan bisa dibilang memiliki kualitas yang menyerupai film layar lebar. 

Adegan Korban yang Bikin Ngilu dan Pilu

Kisah Dots semakin terkenal dikarenakan telah mewujudkan kedua tokoh utama sebagai pasangan yang sebenarnya di dunia nyata. Pasangan tersebut dikenal di kalangan fans sebagai Song Song Couple. Aku yakin para Shawol yang merupakan fans Shinee, juga ikut antusias dengan film ini dikarenakan kehadiran Onew yang berperan sebagai Dokter Lee Chi Hun.

Kisah Dots sendiri berfokus pada percintaan dua sejoli dengan beda profesi, yaitu tentara dan dokter. Song Joong Ki berperan sebagai Kapten Yoo Si Jin, sementara Song Hye Kyo berperan sebagai Dokter Kang Moo Yeon. Meski begitu kedua profesi tersebut sama-sama memiliki sumpah yang bertujuan mengutamakan keselamatan umat manusia tanpa memandang apapun. Karena sama-sama disibukan dengan tugas dadakan, hubungan percintaan mereka nampaknya tidak berjalan mulus.

Di samping percintaan dua tokoh utama, ada pula kisah Goo Won Couple yang ga kalah bikin fans baper, yaitu Letnan Yoon Myeong Joo yang berprofesi sebagai dokter tentara (diperankan oleh aktris Kim Ji Won), dan Sersan Seo Dae Young yang diperankan oleh aktor Jin Goo. Berbeda dengan Song2 Couple, hubungan kedua tokoh ini tidak sampai berlanjut ke dunia nyata. Sersan Seo Dae Young sendiri merupakan sahabat Kapten Yoo, yang mana keduanya digambarkan sama-sama tampan dan gagah. Kehadiran keduanya kerap memberi nuansa bromance yang akhir-akhir ini sedang digandrungi oleh sejumlah kaum hawa.

Goo Won Couple yang juga Bisa Bikin jadi Dag Dig Dug

Karena memiliki genre action, ga heran kalau ada aksi menegangkan di setiap episodenya. Namun yang membuat lucu adalah saat dimana seolah semua kejadian menegangkan selalu mengikuti pasangan Kapten Yoo dan Dokter Kang. Hal ini agak mirip seperti yang dialami anime dan manga Jepang “Detective Conan” yang terkenal, karena dimana mereka berada disitu pasti ada kejadian. Mungkin sutradara menyadari hal tersebut, sehingga mencoba menjelaskan ending film ini dengan cara yang jenaka. Ending seperti itulah yang membuat Dots berbeda dari akhir cerita drama-drama korea pada umumnya.

Meskipun bagus, tapi film ini tetap saja tak lepas dari beberapa adegan klise yang sering menghinggapi banyak kisah drakor, seperti dunia selalu digambarkan begitu sempit. Kemudian aku sedikit keberatan dengan Song2 Couple yang meski dalam keadaan genting sekalipun tetap nampak bersih dan bersinar padahal dalam satu episode dijelaskan bahwa Dokter Kang sama sekali tidak sempat mandi atau keramas karena sibuk mengurus korban bencana alam. Anehnya rambut Dokter Kang nampak tetap rapih, begitu juga dengan wajah Kapten Yoo yang kesehariannya selalu berada bertugas di daerah genting dan memenuhi misi khusus. Wajahnya nampak tetap putih berseri seperti tidak pernah terjemur.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, tetap saja ini adalah salah satu Drama Korea yang mungkin ga bakal bisa aku lupain. Sejujurnya semakin nambah umur, aku semakin males nonton film-film drama. Tapi, serial Dots ini pengecualian deh. (Ai)

Minggu, 23 September 2018

Ocean’s Eight: Film Propaganda Tentang Konsumerisme dan Feminisme Ala Hollywood

Official Poster
Sudah hampir empat bulan berlalu sejak film Ocean’s Eight dirilis ke bioskop pada Juni 2018. Sejak saat itu pula, film bergenre heist ini selalu mengundang tanya saya. Seberapa bagus film yang berusaha menjejalkan figur-figur perempuan menggantikan geng asli Ocean dari film Ocean’s Eleven (1960, 2001) yang didominasi laki-laki? Saya sempat skeptis, karena film Ghostbuster (2016) yang juga menonjolkan perempuan untuk menggantikan geng klasik pria-pria pemburu hantu nampaknya tidak terlalu memuaskan.

Setelah saya menontonnya, ternyata Ocean's Eight tidak seburuk itu. Sebagaimana genre thriller kriminal kebanyakan, film yang bertabur aktris-aktris tenar ini dipenuhi adegan tipu muslihat yang terus-terusan membangkitkan rasa tegang sekaligus penasaran. Meskipun bertema kriminal, Ocean’s Eight digarap dengan lembut tanpa harus menonjolkan adegan kejar-kejaran atau tembak-tembakan yang biasanya menghias tiap judul film kejahatan Hollywood. Boleh juga jika dibilang keterlibatan geng cewe malah membuat film ini terlihat unik.

Tetapi di balik itu semua, entah kenapa tetap ada yang mengganjal di pikiran. Setelah menonton hampir separuh film, saya pun jadi yakin kalau Ocean’s Eight menyimpan misi propaganda isu yang belakangan ini sedang populer di Hollywood. Bukan, tak hanya isu emansipasi perempuan, tetapi juga kecenderungan feminisme Hollywood yang dibalut nuansa glamor dan perilaku konsumeris. Saya pribadi kurang nge-fans dengan gaya feminis ala artis Amerika, apa lagi konsumerisme perempuan, malah cenderung membenci.

PARA PEREMPUAN PENCURI

Masih mengikuti tradisi seri Ocean, Ocean’s Eight juga bertutur tentang curi-mencuri. Kali ini yang harus dicuri adalah sebuah kalung berlian mewah yang dipinjamkan oleh Cartier kepada artis Daphne Kluger (Anne Hathaway), untuk di-endorse (dipakai) dalam perhelatan akbar Met Gala. Met Gala sendiri merupakan event asli tahunan yang diselenggarakan oleh majalah Vogue dan dihadiri undangan penting dari kalangan artis dan dunia fashion.

Kalung Touissant incaran sepanjang film
Pada fase pembukaan film, diketahui bahwa Debbie Ocean (Sandra Bullock), sang pemimpin geng merupakan adik Daniel Ocean (George Clooney) dari seri Ocean sebelumnya. Dibantu oleh Lou (Cate Blanchett), sahabatnya sekaligus seorang pengoplos minuman keras, Debbie yang kala itu baru keluar dari penjara berusaha merekrut orang-orang dengan keahlian khusus untuk membantu aksinya mencuri kalung berlian Touissant dari leher Daphne. Sayangnya, plot cerita ini terkesan hanya menyadur dari plot film Ocean's Eleven.

Kendati demikian, Ocean's Eight tetap berupaya memberi sentuhan baru dengan memasukan sudut padang perempuan sebagai pemeran utama. Ketika Lou mengusulkan untuk merekrut laki-laki ke dalam tim mereka, Dabbie malah menolak. Menurut Debbie, dalam aksi kriminal laki-laki cenderung diwaspadai. Sebaliknya, tidak ada yang menggubris perempuan. Setelah Lou, kemudian bergabung Rose Weil (Helena Bonham Carter), desainer terkenal yang depresi lantaran terlilit hutang dan kasus penggelapan pajak. Nine Ball (Rihanna), hacker perempuan kenalan Lou. Tammy (Sarah Paulson), ibu rumah tangga mantan penyelundup barang-barang mewah dari luar negeri. Lalu, mereka juga merekrut ahli berlian bernama Amita (Mindy Kaling) dan seorang pencopet bernama Constance (Awkwafina).

Ocean's Eight tengah menyusun rencana pencurian
IKLAN BERJALAN

Di luar narasi emansipasi yang membuat film ini makin menarik, sebenarnya Ocean’s Eight membawa misi lain yang menurut saya agak “jahat”. Film besutan sutradara/penulis naskah Gary Ross ini menunjukan betapa perempuan harus mensyukuri bahwa mereka adalah seorang pembelanja ulung, meski harus melanggar hukum sekalipun. Tak hanya itu, produk placement kosmetik dan referensi yang mengarah kepada berlian Cartier dan lifestyle glamour khas majalah Vogue digelar menjejali sepanjang film.

Ocean’s Eight nampaknya memang sekedar ingin mengangkat nilai hidup glamour selebriti Hollywood yang disamarkan menjadi film thriler kriminal. Layaknya Met Gala sungguhan, film ini juga menampilkan parade cameo selebriti-selebriti ternama seperti Kim Kadarshian, Heidi Klum, Katie Holmes, Dakota Fanning, Serena Williams, dkk. Semuanya berdandan mewah khas acara red carpet.

Sayangnya, semua narasi kemewahan ini tidak diakhiri dengan resolusi yang memuaskan. Seolah perempuan-perempuan utama dalam kisah ini memang tidak pernah mempertanyakan simbol-simbol kemewahan yang selama ini memaksa mereka menjadi seorang kriminal dan pandai tipu muslihat demi mendapatkan ketenangan hidup sesuai standar masyarakat kelas atas.

Debbie menunjukan kepiawaiannya mencuri kosmetik
Padahal, ideologi seorang Debbie Ocean sendiri sangat menarik untuk digali, mengingat ia tidak mencuri demi mendapatkan uang. Sesaat sebelum operasi pencurian dimulai, Debbie mengatakan kepada girl’s squad-nya bahwa mereka tidak melakukan hal tersebut untuk diri sendiri, melainkan untuk seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang bermimpi menjadi seorang kriminal. Saya rasa, Debbie sedang berbicara tentang masa kecilnya sendiri.

Meskipun dialog tersebut cukup membekas, tetapi tidak ada tindak lanjutnya. Tidak ada momen flashback tentang masa kecil Debbie atau alasan kenapa dia mencuri. Penonton justru diarahkan agar memahami bahwa Debbie melakukan pencurian itu lantaran dendam kepada mantan pacarnya yang bernama Claude Becker (Richard Armitage) yang dahulu pernah menjebaknya hingga masuk penjara.

FEMINISME HOLLYWOOD

Sejak Taylor Swift membuat istilah girl’s squad mendunia, geng cewe selebriti Amerika memang sudah identik dengan kampanye pro feminisme. Perempuan-perempuan ini membentuk kelompok demi mengenyahkan stereotipe gender yang selama ini merugikan perempuan dalam industri hiburan. Saya rasa, ini memang merupakan satu upaya yang bagus, pada awalnya.

Debbie bersama girl's squad-nya yang glamour
Lama kelamaan, saya jadi agak risi melihat geng cewe dalam tradisi Hollywood. Sebab, geng cewe berpaham feminis terkesan digambarkan suka memusuhi laki-laki, baik dalam musik atau film. Representasi media feminis semacam ini acap kali berusaha menghapus kehadiran laki-laki dan menggantinya dengan perempuan. Ide semacam ini bisa dilihat dalam pameran lukisan “Penciptaan Adam” karya Michelangelo pada video klip Ariana Grande "God is A Woman" yang dibuat ulang dengan menggunakan figur-figur perempuan. Ocean’s Eight sendiri juga membawakan ide serupa melalui adegan di mana saat Dabbie dan Tammy berkunjung ke Museum Seni Metropolitan di New York untuk mengetes sistem keamanan museum, mereka sempat-sempatnya memasang replika lukisan George Washington karya Emanuel Leutze yang diganti wajah dan perawakannya menjadi perempuan. Motif utama aksi Debbie dalam Ocean’s Eight lantas juga menjadi agak cheesy setelah terkuak bahwa semua itu hanya akibat dendam kepada laki-laki.

Emanuel Leutze "Washington Crossing the Delaware" versi Ocean's Eight
Michelangelo "Creation of Adam" versi Ariana Grande
Ketimbang berkompromi dengan representasi dominan laki-laki, geng cewe dalam tradisi feminis Amerika seolah ngotot bahwa laki-laki yang selama ini mendominasi seluruh aspek kehidupan patut disalahkan dengan jalan menghapus mereka. Cara ini sebenarnya sudah kuno, karena memang cara lawas sistem politik laki-laki menyingkirkan figur perempuan sepanjang sejarah umat manusia. Jadi, sebagaimana apa yang dilakukan Debbie, mungkin memang feminisme Hollywood ada berkat rasa dendam. (Ind)

Sabtu, 22 September 2018

Film The Walk (2015), Meniti Impian di Puncak Dunia

Official Poster

Waktu Indi ngasih film ini, dia hanya bilang kalau ini adalah kisah nyata. Sejujurnya perkataan tersebut tidak begitu membangkitkan minatku untuk menonton karena kedengarannya film ini akan sangat membosankan. Terlebih dengan durasinya yang nyaris dua jam. Dari covernya bisa dilihat sepertinya ini memang berkisah tentang artis akrobatik yang menaklukan dua buah gedung pencakar langit diatas seutas tali.

Akhirnya pada suatu waktu, aku menyempatkan diri untuk menonton film ini dengan penuh konsentrasi. Diluar dugaan aku malah menyukai film ini. Film ini jauh dari kata bosan yang selalu aku bayangkan. Setelah selesai menonton, aku baru tahu bahwa film ini disutradarai oleh Robert Zemeckis. Kalau dari awal aku sudah tahu bahwa beliau yang menyutradarai film ini, mungkin aku tidak akan menunda-nunda untuk menontonnya.

Film ini berkisah tentang Phillipe Petit, seorang artis akrobat asal Perancis yang memiliki ambisi untuk berjalan diatas tali secara illegal diantara dua twin tower legendaris, yaitu World Trade Center. Selain menceritakan kisah sang artis, film ini juga sekaligus untuk mengenang gedung WTC yang telah hancur pada 11 September 2001 silam. Di waktu berdirinya, bangunan tersebut memiliki masa kejayaannya sebagai bangunan tertinggi di dunia.

Pemilihan aktor Joseph Gordon-Levitt sebagai pemeran Phillipe Petit emang ga keliru. Levitt sendiri telah dilatih oleh Phillipe Petit dalam workshop delapan hari. Hal itu berbuah pada keberhasilannya untuk meniti diatas tali pada ketinggian 10 kaki.

Phillipe Petit diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt
Berjalan diatas tali bukanlah hal yang mudah, butuh keseimbangan, konsentrasi serta persiapan mental untuk melakukannya. Semua itu tidak terlepas dari pikiran yang positif. Hal itulah yang mungkin berusaha ditanamkan oleh sang legenda akrobat kepada semua orang. Tentunya yang memukau dari film ini adalah dukungan teknologi sinema 3D dan IMAX yang membuat kita seolah-olah ikut merasakannya. Sangat disayangkan aku tidak menontonnya di bioskop. Film ini pastinya akan sangat terasa indah sekaligus menegangkan jika ditonton dengan layar yang besar.

Meskipun memiliki durasi dua jam, Robert Zemeckis benar-benar pandai mengemas keseluruhan perjalanan sang artis dengan baik dan mudah dinikmati. Levitt selaku bintang utama dibiarkan menjadi seorang narator yang mengisahkan perjalanan tersebut dengan gaya bicara yang interaktif. Penceritaannya nampak tak bertele-tele. Semua adegan terlihat mengalir begitu saja.

Klimaks yang paling ditunggu dalam film ini adalah saat pelaksanaan eksekusi rencana yang sudah dipersiapkan selama kurang lebih enam tahun ini. Pada tahun 1974, Phillipe Petit benar-benar mewujudkan penitiannya diatas langit. Ambisi seorang Petit menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa tidak ada satu hal pun yang tak bisa digapai jika kita mau berusaha dan pantang menyerah. Ada begitu banyak kendala yang ditemuinya, tetapi karena kegigihannya ia berhasil mengatasi hal tersebut meskipun harus diiringi resiko baru lagi.

Meniti Tali di Puncak Dunia
Seandai Indi tak pernah memberitahu atau mungkin aku tak pernah menyimak bagian pembuka film ini, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa ini adalah kisah nyata. Kisah ini terkesan fiktif namun sebagian besar kejadian memang benar adanya. Dimulai dari menyamar sebagai pekerja konstruksi, aksi telanjang bulat, kaki yang terinjak paku dan masih banyak lagi. Tapi menurutku disitulah letak kesuksesan seorang Robert Zemeckis dalam menyutradarai fim ini. Ia mampu meramu film ini menjadi tontonan yang menarik dan jauh dari kata bosan, sehingga penonton bisa larut dalam ceritanya. (Ai)