Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2018

ARGO, Film yang Menginspirasi Saya untuk Buru-Buru Sidang Tesis

poster film asli argo
Poster film asli tapi palsu Argo (1980)
Saya sedikit kaget saat menyadari bahwa saya lebih sering menulis tentang film-film random ketimbang film favorit saya seperti Argo. Padahal, Argo adalah salah satu film penting dalam petualangan akademik saya. Berkat menonton film besutan Ben Affleck ini, saya jadi terinspirasi untuk buru-buru menggarap tesis saat kuliah dahulu. Tak hanya itu, saya juga kebelet untuk segera melewati sidang tesis, kemudian menikmati kepuasan yang paripurna saat hasilnya diprint menjadi karya ilmiah dan dijejalkan di antara rak buku di perpustakaan kampus. Tak disangka-sangka, selain menjadi ganjel rak bagian referensi di kampus, tesis ini sekarang juga sudah dibukukan.

Meski perannya yang begitu penting, tak sekalipun Argo saya beri kredit malampaui gelarnya sebagai film favorit. Bukan lantaran tidak mau menobatkan Argo menjadi ‘film paling inspiratif’ dalam hidup saya, tetapi karena dahulu saya seringkali lupa bahwa hal-hal yang kita anggap kecil seringkali yang berperan paling besar. Kini, saya yakin film yang diangkat dari memoir seorang pensiunan agen CIA berjudul The Master of Disguise ini berkontribusi membantu saya berpikir jenih di saat-saat akhir kuliah.

THE MASTER OF DISGUISE

Argo dibuka oleh demonstrasi besar rakyat dan militan Iran di depan kedutaan besar Amerika di Tehran pada tahun 1979. Menyambung aksi kudeta terhadap Kerajaan Iran, mereka menuntut agar Amerika Serikat mencabut suaka terhadap Reza Pahlevi. Dengan begitu, sang mantan Raja yang kabarnya tengah menjalani pengobatan kanker di Amerika itu bisa dipulangkan untuk diadili. Malangnya, demonstrasi di hari itu justru menjadi awal petaka bagi para diplomat Amerika.

Rakyat Iran mengepung Kedutaan Amerika di Tehran
Massa yang marah lantas menjebol pagar dan menyapu halaman kantor kedutaan Amerika. Tak butuh waktu lama sampai penjagaan di dalam kedutaan akhirnya tumbang. Militan Iran pun menyandera 52 orang diplomat Amerika yang bekerja di sana. Suasana kedutaan besar Amerika di Iran tak ayal menjadi sorotan media global dan menjadi aksi penyanderaan paling terkenal di dunia hingga kini. Akibat proses diplomasi yang alot, krisis penyanderaan di Iran ini berlangsung selama lebih dari satu tahun, dari 4 November 1979 sampai 20 Januari 1981.

Tak dinyana, beberapa saat sebelum rakyat Iran menyerbu kedutaan Amerika, enam orang pegawai kedutaan berhasil kabur dari pintu belakang. Mereka diberi perlindungan oleh Duta Besar Canada untuk Iran, Ken Taylor (Victor Garber), dan diberi julukan “houseguest” oleh pemerintah Canada. Namun, justru nyawa mereka yang paling terancam jika dibandingkan para diplomat yang disandera di kedutaan. Pasalnya, jika hal ini sampai diketahui militan Iran, keenamnya bisa dituduh sebagai mata-mata Amerika dan dibunuh di tempat. Pemerintah Amerika pun akan sangat malu dibuatnya.

Para "guesthouse" yang terjebak di Kota Tehran
Kabar kaburnya enam diplomat Amerika di Iran dengan sangat cepat tersiar di kalangan intelejen Amerika. Dibantu pemerintah Canada, Departemen Negara di Washington dengan segera menyusun rencana penyelamatan dengan memberangkatkan Tony Mendez (Ben Affleck), seorang agen pembebas sandera terbaik di CIA. Dengan mengambil nama palsu sebagai Kevin Harkins, Mendez menyusun siasat dibantu seorang make-up designer pemenang penghargaan Oscar bernama John Chambers (John Goodman) dan Lester Siegel (Alan Arkin), seorang produser film kawakan di Hollywood. Bersama-sama mereka membuat rumah produksi film palsu dan berencana membuat film fiksi ilmiah gadungan berbudget 20 juta dolar berjudul Argo. Semata-mata bertujuan untuk menyamarkan identitas enam diplomat sebagai rombongan kru film dari Canada.

Berhubung budaya perfilman Amerika Utara sudah terlalu dalam menancap di Iran bahkan sebelum masa revolusi, penyamaran produksi film Argo dibuat dengan amat sempurna. Tak hanya menyiapkan screenplay film, Mendez juga secara legal membuka kantor produksi bernama Studio Six. Ia juga menyewa Jack Kirby sebagai pembuat storyboard dan merilis sebuah konferensi pers untuk menjual berita bohong. Saking meyakinkannya rencana produksi film jadi-jadian Argo ini, kabarnya banyak penulis naskah yang terkecoh. Konon, ada 26 naskah film yang dikirimkan ke alamat kantor produser palsu tersebut, salah satunya dari Steven Spielberg.

Pers menjual berita hoax pembuatan film Argo

INSPIRASI TESIS

Jauh sebelum cintaku terhadap Argo bersemi, sudah lama saya ingin membuat penelitian ilmiah tentang sejarah film di Indonesia. Akan tetapi, ide itu tak kunjung muncul. Apa yang harus saya tulis dari sejarah film Indonesia ini? Buku-buku perfilman yang pernah saya baca sudah lebih dahulu merinci dengan detail kecenderungan perfilman kita, lalu apa yang tersisa untuk saya tulis?

Di tengah kebimbangan ini, saya pun memutuskan rehat sembari 'bertapa' menonton film. Kebetulan saya sudah lama mendengar pujian-pujian terhadap Argo, setelah film ini keluar sebagai pemenang film terbaik penghargaan Oscar pada tahun 2013. Meski demikian, ada saja alasan klasik saya untuk menghindari film yang bertutur tentang aksi agen rahasia ini: takut relalu pro-Amerika-lah, takut terlalu banyak adegan menembak sembari kebut-kebutan-lah, dll, dst.

Lagi-lagi tuduhan-tuduhan mambu saya tersebut tidak terbukti. Setelah menonton Argo, saya baru sadar kenapa film ini begitu baik. Meskipun berlatar Iran masa Revolusi Islam, Argo tidak mendeskritkan Republik Islam Iran sebagai musuh bebuyutan Amerika. Sebaliknya, Argo berhasil meyakinkan penonton bahwa kekacauan diplomatik yang terjadi di Iran sebenarnya adalah ulah Amerika sendiri. Ditambah lagi, ketegangan dalam Argo tidak dibangun dari adegan aksi dan kejar-kejaran, melainkan lebih kepada situasi intens saat penyamaran para diplomat hampir saja terkuak.

Identitas palsu yang hampir terbongkar
Sebenarnya, Argo tidak serta merta menanamkan ide judul penulisan tesis begitu saya mulai menontonnya. Ketertarikan saya terhadap Revolusi Islam dan campur tangan pemerintah dalam perfilman memang ramuan yang saya cari-cari dari film ini, namun sayangnya Argo tidak bertutur tentang hubungan keduanya. Sepanjang alur cerita Argo, kita hanya akan banyak melihat ketegangan di tingkat pemerintahan Amerika Serikat saat menghadapi konflik dan penyanderaan di dalam negara Iran. Satu-satunya dialog dalam Argo yang menyambung antara revolusi agama dengan perfilman ialah saat Tony Mendez menyamar menjadi seorang produser film untuk meminta izin syuting di beberapa landmark terkenal di Kota Tehran.

"Anda datang di saat yang sulit. Sebelum revolusi, 40% bioskop di Tehran menayangkan film pornografi. [...] Fungsi kantor ini adalah pemurnian, sekaligus mempromosikan kesenian. Saya akan mempelajari naskah (film Anda) ini atas nama Kementerian."

sejarah film seks di Indonesia
Sejarah film seks di Indonesia
Sepenggal dialog yang diucapkan oleh seorang pejabat Departemen Kebudayaan dan Bimbingan Islam kepada Mendez tersebut membuat saya sadar bahwa ternyata Iran pun pernah diserbu film-film seks dari negara-negara Barat. Kecenderungan film seks ternyata adalah penyakit akut dunia perfilman di negara manapun yang pernah diserbu kapitalisme Amerika sampai tahun 1980an. Lalu, saya pun jadi mengawang-awang, mungkinkah film-film Warkop DKI yang mengeksploitasi wilayah paha dan dada para gadis Warkop bukan sebuah kesengajaan para produser film semata.

Layaknya Iran sebelum Revolusi Islam, Indonesia pun pernah menjadi pemuja produk film seks Hollywood. Apabila kita menonton film-film Indonesia periode tahun 1970an sampai awal 1990an, tak sulit menemukan adegan ranjang-ranjangan. Di samping menjadi produk yang propuler, ada kalanya film menjadi media pemerintah melambungkan isu tertentu, salah satunya isu seks dan perkawinan. Sebaliknya, peralihan iklim politik berpotensi besar mengubah arah perfilman tersebut, seperti halnya yang sedikit disinggung dalam Argo. Berkat menonton Argo, saya pun mantap untuk menulis tesis tentang sejarah politik film seks di Indonesia. (Ind)

Jumat, 05 Oktober 2018

John Wick, Kisah Sulitnya Keluar dari Lingkaran Organisasi Rahasia

Official Poster
Oke, saya ngaku. Sebenarnya, awal saya membaca sinopsis John Wick saya tidak tertarik dengan film aksi kriminal satu ini. Pertama, karena saya pribadi tidak terlalu menyukai film-film aksi tembak-tembakan yang dipenuhi adegan kejar-kejaran sembari menunggang mobil. Kedua, saya sudah kenyang nonton film-film seperti James Bond, lantaran sering menampilkan karakter-karakter cewe seksi bertaring (femme fatale) yang punya love affair dengan karakter utama pria flamboyan. Di atas semua itu, nampaknya saya memang mudah kelelahan menonton film aksi dimana bumi serasa digoyang menggunakan angle kamera yang berubah-ubah.

Butuh waktu beberapa lama sampai saya sadar kalau John Wick punya ramuan khas sendiri. Ketimbang kisah jagoan yang membasmi sindikat organisasi rahasia dan jatuh hati pada mata-mata perempuan, saya melihat cerita John Wick lebih banyak berkutat pada perjuangan seorang pria keluar dari lingkaran organisasi rahasia para pembunuh bayaran yang pernah membesarkan namanya. Ramuan ini menjadikan JW selalu menarik diikuti. Sebab, penonton pun pasti ingin tahu kenapa ia bersikeras keluar dan bagaimana caranya sang pemeran utama membebaskan diri dari aturan-aturan yang berlaku di dunia kriminal kelas kakap. Ditambah lagi, JW menyuguhkan koreografi perkelahian yang menurut saya elegan, boleh dibilang seperti orang yang sedang menari sembari menembak. Tidak heran, selepas seri originalnya, John Wick: Chapter 2 digadang sebagai salah satu sequel film terbaik di tengah film-film sequel gagal dari film-film aksi kriminal terkenal, seperti Taken 2 dan 3.

John Wick 1: Kembali ke Dunia Hitam

Sesuai judulnya, JW berkisah mengenai pensiunan pembunuh bayaran legendaris The Boogeyman yang memiliki nama asli Johnathan Wick (Keanu Reeves). Masa pensiunnya terpaksa dilalui sendirian dalam duka setelah istri tercintanya sekaligus keluarga satu-satunya meninggal akibat penyakit kronis. Suatu hari, seekor anak anjing tiba di depan pintu rumahnya. Ternyata, sang istri meninggalkan wasiat untuk menghadiahi John teman anak anjing bernama Daisy agar John bisa belajar mencintai lagi dan memulai hidup baru.

John bertemu anak anjing Daisy
Sedari bagian prolog film bergenre neo-noir ini, rasanya seperti ada yang mengiris-iris bawang di depan muka saya. Siapa sangka, film yang saya kira ‘macho’ bakal dibuka dengan air mata yang berlinang-linang dari seorang pria yang tengah menggendong anak anjing. Setelah itu, John dan Daisy pun cepat akrab dan tak terpisahkan.

Malangnya, suatu malam John mendapati anak anjing kesayangannya dibunuh oleh sekelompok gangster Russia yang menyusup ke dalam rumah untuk mencuri mobil antiknya. Akibatnya, 'monster' dalam diri John Wick pun bangkit kembali untuk menuntut balas. Bagi John, segala sesuatu punya harga yang harus dibayarkan, samas seperti halnya nyawa juga harus dibayar dengan nyawa. Maka, dimulailah pengejaran John untuk membunuh Iosef Tasarov (Alfie Allen), si ketua geng Russia pembunuh Daisy.

Jalan terjal tak hentinya menghadang misi perburuan John saat terkuak bahwa Iosef si anak papa ternyata merupakan putra dari seorang ketua sindikat kriminal Russia terbesar di New York yang bernama Viggo Tasarov (Michael Nyqvist). Ini artinya, mau tidak mau John harus kembali masuk ke dalam lingkaran organisasi rahasia yang pernah mati-matian ia tinggalkan. Ia pun memulai perburuannya dengan mengunjungi kawan lamanya yang bernama Winston (Ian McShane), seorang boss sindikat yang merangkap pemilik sekaligus manajer Hotel Continental di New York.

John berhasil menembak Iosef
Uniknya, lingkaran organisasi rahasia dalam film ini ibarat dunia lain yang mirip dengan dunia biasa dengan sedikit perbedaan hukum dan sistem. Dunia kriminal ala John Wick memiliki layanan kesehatan, bengkel mobil, jasa pembersih mayat, toko senapan, penjahit baju anti peluru, bahkan penginapan untuk para pembunuh bayaran yang bernama Hotel Continental. Meskipun demikian, uang biasa tidak berlaku di sini. Sebagai gantinya mereka bertransaksi menggunakan koin emas yang tidak diketahui berapa nominal satuannya.

Saya jadi ingat tentang mata uang dunia maya yang bernama bit coin. Meskipun banyak yang mengakuinya sebagai nilai tukar yang legal, tetapi juga tidak kalah banyak digunakan para kriminal untuk bertransasksi membeli barang-barang ilegal dan jasa pembunuh bayaran di dalam ruang maya Dark Web. Menurut kabar, satuan mata uang ini cukup sulit dilacak dan memiliki nilai tukar yang besar. Satu bit coin saja konon setara dengan 100 juta rupiah.

John Wick 2: Hukum dan Hutang

Sebagaimana kisah John Wick pertama, alur cerita John Wick: Chaper 2 pun masih berputar di sekitar John Wick yang tak hentinya tersedot ke dalam kegiatan organisasi rahasia. Kali ini, John terlilit hutang pada seorang pejabat sindikat kriminal Camorra bernama Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio). Namun, bukan hutang barang atau uang tentunya. Hutang yang dimaksud ialah hutang budi.

Dahulu, agar bisa keluar dari organisasi, John meminta bantuan kepada Santino. Sebagai gantinya, John memberi Santino sebuah marker berupa compact disk bergambar tengkorak yang berisi cap darahnya sendiri. Menurut tradisi, seorang pemegang marker seperti Santino berhak meminta apapun kepada sang pemberi marker yang telah membubuhkan cap darahnya. Menolak permintaan pemegang marker artinya John sudah harus siap diburu dan eksekusi. Dengan berat hati, John pun mengiyakan permintaan Santino.

Marker bukti kesepakatan John dan Santino
Sialnya, Santino malah meminta John membunuh saudari sekaligus pesaingnya yang bernama Gianna D’Antonio (Claudia Gerini). Konflik menjadi semakin pelik dan menyulitkan bagi John, lantaran Santino malah berbalik mengejarnya dengan alasan menghormati tradisi mafia Italia yang wajib menuntut balas kematian keluarganya. Meski pembunuhan saudarinya merupakan ide Santino sendiri, ia tetap membuka perburuan kepala John Wick dengan imbalan 7 juta dolar kepada seluruh pembunuh bayaran yang berada di New York.

Dibandingkan seri pertamanya, John Wick: Chapter 2 mengeksplorasi lebih dalam hukum dan cara kerja dunia kriminal kelas kakap secara fiksional. Meskipun fiksi, sebenarnya apa yang disajikan hanya berkaca pada cara kerja organisasi rahasia di dunia nyata. Melalui Chapter 2, penonton dibawa untuk membayangkan struktur dan cara kerja organisasi rahasia seperti Freemason, sindikat kriminal Italia, dan Ordo-Ordo Kesatria di Eropa. Bahkan julukan Camorra sendiri sebenarnya julukan asli mafia Italia di Naples.

Layaknya secret society tersebut, organisasi-organisasi rahasia dalam JW juga banyak menggunakan simbol berupa tulisan atau lambang. Tak hanya simbol saja yang seringkali “disembah”, janji dan aturan pun harus selalu ditaati. Menurut Winston, setidaknya ada dua aturan sakral untuk semua anggota organisasi, yaitu tidak boleh membunuh di Hotel Continental di seluruh dunia dan setiap marker harus dihormati. Apabila melanggar salah satu aturan ini, seorang anggota organisasi sudah harus siap meregang nyawa, tidak peduli apa pangkatnya.

Winston menjelaskan dua aturan yang tidak boleh dilanggar kepada John
Dengan segala aturan tersebut, bagaimana caranya John Wick bisa benar-benar pensiun dari pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran? Yah, inilah yang menurut saya membuat film ini menjadi menarik. Ditambah lagi di penghujung Chapter 2, saking kesalnya dipermainkan, John sampai kelepasan membunuh Santino di dalam bar Hotel Continental New York. Ia pun terpaksa ditetapkan sebagai Ex-communicado oleh Winston dan diberi kesempatan selama 1 jam untuk kabur sebelum pembunuh bayaran dari seluruh dunia memburunya. Ketegangan ini akan dilanjutkan ke seri selanjutnya yang bertajuk John Wick 3: Parabellum pada tahun 2019 mendatang. Saya pun jadi tidak sabar menantinya. (Ind)

Sinopsis dan Review Singin' in the Rain (1952)

pic sinopsis and review singin' in the rain
Pose Ikonik Film Singin' in the Rain (1952)


Sinopsis Singin’ in the Rain (1952)

Film fiksi ini mengisahkan tentang Don Lockwood (diperankan oleh Gene Kelly) yang merupakan seorang aktor tenar pada akhir tahun 20an. Pada tahun tersebut, dunia perfilman masih didominasi film bisu. Untuk menjaga popularitasnya, pihak produser menginginkan Lockwood untuk menciptakan gimmick tentang hubungan asmaranya dengan lawan mainnya, yaitu Lina Lamont (diperankan oleh Jean Hagen).

Pada suatu hari saat sedang menghindari kejaran para fans, Don tidak sengaja bertemu dengan Kathy Selden (diperankan oleh Debbie Reynolds). Disebabkan suatu hal, keduanya sedikit bersitegang dan selanjutnya Kathy tak sengaja menciptakan masalah terhadap Lina. Sejak saat itu Don merasa jatuh hati kepada gadis yang ditemuinya secara kebetulan itu. Keduanya kemudian bertemu kembali dan akhirnya mulai menjalin kasih secara diam-diam dari sorotan publisitas.

image sinopsis dan review singin' in the rain
Don dan Kathy Saat Pertama Kali Bertemu
Suatu hari, R.F. Simpson (diperankan oleh Millard Mitchell) yang merupakan pemilik dari Monumental Pictures (rumah produksi ternama yang menaungi Don dan Lina) merasa terancam dengan film suara pertama “The Jazz Singer” yang menjadi big hits. Dia merasa harus melakukan pembaharuan agar produksi filmnya tak ketinggalan zaman. Sayangnya hal itu tersangkut kendala oleh sifat Lina Lamont yang buruk dan tak berbakat dalam apapun. Hal ini terlihat dari hasil sunting akhir film yang buruk dan dicemooh oleh banyak penonton

Don cukup terpuruk dengan kejadian tersebut. Bersama Cosmo Brown (Donald O'Connor) sahabatnya yang jenius dan multitalenta, serta Kathy sang kekasih, mereka mencetuskan sebuah ide untuk memperbaiki kondisi tersebut. Caranya dengan menciptakan film musikal dan Kathy menjadi dubber suara untuk Lina. Ide tersebut diterima dengan baik oleh R.F. Simpson dengan syarat Lina tak boleh mengetahui hal tersebut sama sekali. Namun, Lina akhirnya mengetahui semua itu termasuk jalinan asmara Don dengan Kathy.

Dengan segala cara Lina berhasil membungkam dan mendikte R.F. untuk menjegal karir Kathy di Hollywood. Tak hanya itu, dia juga meminta pada R.F. agar gadis pengisi suaranya itu tak pernah diberikan peran besar lagi untuk ke depannya. Ambisi Lina untuk mengendalikan keseluruhan studio semakin menjadi-jadi. Cosmo, Don dan R.F., akhirnya melakukan sesuatu agar publik mengetahui sendiri seperti apa Lina Lamont yang sebenarnya.

gambar sinopsis dan review singin' in the rain (1952)
Lina Lamont Ketawan Lipsync


Review Film

Biarpun film ini cukup jadul dan jelasnya aku belum lahir pada tahun tersebut, tapi menurutku film ini luar biasa banget. Film ini dikemas lengkap dengan menampilkan banyak unsur seperti romansa, komedi, musikal, koreografi tarian, juga sejarah perfilman dan fashion dikala itu.

Film besutan studio MGM ini benar-benar menampilkan artis yang berkualitas seperti Gene Kelly, Debbie Reynolds dan Donald O’Connor. Selain pandai berakting, ketiganya sangat jago menari dan bernyanyi. Namun begitu menurutku dari segi bakat Donald O’Connor jauh lebih menonjol, ekspresif, lincah dan sangat jenaka. Padahal perannya lebih minor, bila dibandingkan dengan Gene dan Debbie selaku pemeran utama pria dan wanita.


trio cast of singin' in the rain (1952) pic
Gene Kelly, Debbie Reynolds dan Donald O'Connor

Saking terkenalnya, film ini juga telah memberikan dampak pada pop culture. Salah satunya pada MV Paparazzi milik Girls Generation, girlband asal Korea selatan. Pada cuplikan video klip berbahasa Jepang tersebut, para member akan memasuki panggung pertunjukan satu persatu diiringi lagu Singin’ in the Rain yang dinyanyikan oleh Gene Kelly secara solo.

Entah kenapa film ini menurutku jalan ceritanya mirip sama sinetron dan ftv. Dimana dua orang pria dan wanita awalnya bertengkar kemudian jatuh cinta. Kemudian ada pesaing wanita dengan muka tembok, menyebalkan dan suka memaksakan kehendak seperti Lina Lamont. Akhir ceritanya biasanya happy ending, ditandai dengan tersingkirnya si wanita pengganggu dan bersatunya kedua tokoh utama.

Benar atau ga, aku pikir kayaknya film ini ngasih pengaruh besar terhadap sejumlah film yang diproduksi setelahnya. Mungkin karena pada tahun tersebut jalan cerita kayak gini masih unik. Tapi sepertinya ini bukan satu-satunya film yang menjadi cikal bakal alur yang mainstream dan klise.


Secuil Info Salah Satu Pemain

Debbie Reynolds dan putrinya, Carrie Fisher
Debbie Reynolds yang berperan sebagai Kathy Selden adalah ibu kandung dari Carrie Fisher, artis Hollywood yang sangat dikenal perannya sebagai Princess Leia di film franchise Star Wars. Sampai dengan rilisnya Star Wars: the Last Jedi (2017), putrinya tersebut masih turut mengambil bagian dalam film tersebut.

Namun sayang, Carrie meninggal pada 27 Desember 2016 akibat serangan jantung setelah melakukan serangkaian tur promosi film terakhirnya ini. Kabar mengejutkan kemudian disusul dengan kepergian Debbie yang meninggal pada 28 Desember 2016, tepat sehari setelah kepergian putrinya.
Kepergian keduanya yang begitu kebetulan dan mendadak membuat Hollywood berduka sekaligus terharu karenanya. Debbie yang dikenal begitu keibuan seolah senantiasa mengiringi kemanapun putrinya pergi, bahkan hingga ke peristirahatan terakhirnya.

Debbie merupakan salah satu pemeran di film Singin’ in the Rain yang paling lama hidup dibandingkan pemain lainnya seperti Gene Kelly yang meninggal pada 1996, Donald O’Connor pada 2003, Jean Hagen di tahun 1977, dan Millard Mitchell pada 1953. (Ai)

Rabu, 26 September 2018

Telat Kepincut Drama Korea Descendants of the Sun



Adegan Iconic Drama Korea Descendants of the Sun


Oke, sebelum membahas film yang biasa disingkat Dots ini, aku ingin menyampaikan sedikit pendahuluan. Dots merupakan drakor ketiga dari Song Hye Kyo yang benar-benar kusimak setelah seri Endless Love (Autumn in My Heart) dan Full House. Setelah menonton film yang berjumlah 16 episode ini aku pengen bilang, sepertinya ini adalah salah satu serial drama korea dengan budget yang terhitung besar. Ga heran sepanjang episodenya sering bersliweran produk-produk sponsor bahkan di adegan paling menegangkan sekalipun. Dimulai dari fast food, mobil canggih yang bisa nyetir sendiri, produk jahe merah seruput, aplikasi booking hotel, coffee shop, choco pie, jam tangan canggih, dan masih banyak lagi produk lainnya.

Mungkin ini bukan model cerita plot twist yang lumrah digunakan banyak drakor dewasa ini. Dots sendiri merupakan gabungan dari drama romance dan action. Untuk pertama kalinya aku baru lihat drama korea dengan tema bencana alam. Tak main-main, setting lokasinya benar-benar terlihat total dan bisa dibilang memiliki kualitas yang menyerupai film layar lebar. 

Adegan Korban yang Bikin Ngilu dan Pilu

Kisah Dots semakin terkenal dikarenakan telah mewujudkan kedua tokoh utama sebagai pasangan yang sebenarnya di dunia nyata. Pasangan tersebut dikenal di kalangan fans sebagai Song Song Couple. Aku yakin para Shawol yang merupakan fans Shinee, juga ikut antusias dengan film ini dikarenakan kehadiran Onew yang berperan sebagai Dokter Lee Chi Hun.

Kisah Dots sendiri berfokus pada percintaan dua sejoli dengan beda profesi, yaitu tentara dan dokter. Song Joong Ki berperan sebagai Kapten Yoo Si Jin, sementara Song Hye Kyo berperan sebagai Dokter Kang Moo Yeon. Meski begitu kedua profesi tersebut sama-sama memiliki sumpah yang bertujuan mengutamakan keselamatan umat manusia tanpa memandang apapun. Karena sama-sama disibukan dengan tugas dadakan, hubungan percintaan mereka nampaknya tidak berjalan mulus.

Di samping percintaan dua tokoh utama, ada pula kisah Goo Won Couple yang ga kalah bikin fans baper, yaitu Letnan Yoon Myeong Joo yang berprofesi sebagai dokter tentara (diperankan oleh aktris Kim Ji Won), dan Sersan Seo Dae Young yang diperankan oleh aktor Jin Goo. Berbeda dengan Song2 Couple, hubungan kedua tokoh ini tidak sampai berlanjut ke dunia nyata. Sersan Seo Dae Young sendiri merupakan sahabat Kapten Yoo, yang mana keduanya digambarkan sama-sama tampan dan gagah. Kehadiran keduanya kerap memberi nuansa bromance yang akhir-akhir ini sedang digandrungi oleh sejumlah kaum hawa.

Goo Won Couple yang juga Bisa Bikin jadi Dag Dig Dug

Karena memiliki genre action, ga heran kalau ada aksi menegangkan di setiap episodenya. Namun yang membuat lucu adalah saat dimana seolah semua kejadian menegangkan selalu mengikuti pasangan Kapten Yoo dan Dokter Kang. Hal ini agak mirip seperti yang dialami anime dan manga Jepang “Detective Conan” yang terkenal, karena dimana mereka berada disitu pasti ada kejadian. Mungkin sutradara menyadari hal tersebut, sehingga mencoba menjelaskan ending film ini dengan cara yang jenaka. Ending seperti itulah yang membuat Dots berbeda dari akhir cerita drama-drama korea pada umumnya.

Meskipun bagus, tapi film ini tetap saja tak lepas dari beberapa adegan klise yang sering menghinggapi banyak kisah drakor, seperti dunia selalu digambarkan begitu sempit. Kemudian aku sedikit keberatan dengan Song2 Couple yang meski dalam keadaan genting sekalipun tetap nampak bersih dan bersinar padahal dalam satu episode dijelaskan bahwa Dokter Kang sama sekali tidak sempat mandi atau keramas karena sibuk mengurus korban bencana alam. Anehnya rambut Dokter Kang nampak tetap rapih, begitu juga dengan wajah Kapten Yoo yang kesehariannya selalu berada bertugas di daerah genting dan memenuhi misi khusus. Wajahnya nampak tetap putih berseri seperti tidak pernah terjemur.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, tetap saja ini adalah salah satu Drama Korea yang mungkin ga bakal bisa aku lupain. Sejujurnya semakin nambah umur, aku semakin males nonton film-film drama. Tapi, serial Dots ini pengecualian deh. (Ai)

Minggu, 23 September 2018

Ocean’s Eight: Film Propaganda Tentang Konsumerisme dan Feminisme Ala Hollywood

Official Poster
Sudah hampir empat bulan berlalu sejak film Ocean’s Eight dirilis ke bioskop pada Juni 2018. Sejak saat itu pula, film bergenre heist ini selalu mengundang tanya saya. Seberapa bagus film yang berusaha menjejalkan figur-figur perempuan menggantikan geng asli Ocean dari film Ocean’s Eleven (1960, 2001) yang didominasi laki-laki? Saya sempat skeptis, karena film Ghostbuster (2016) yang juga menonjolkan perempuan untuk menggantikan geng klasik pria-pria pemburu hantu nampaknya tidak terlalu memuaskan.

Setelah saya menontonnya, ternyata Ocean's Eight tidak seburuk itu. Sebagaimana genre thriller kriminal kebanyakan, film yang bertabur aktris-aktris tenar ini dipenuhi adegan tipu muslihat yang terus-terusan membangkitkan rasa tegang sekaligus penasaran. Meskipun bertema kriminal, Ocean’s Eight digarap dengan lembut tanpa harus menonjolkan adegan kejar-kejaran atau tembak-tembakan yang biasanya menghias tiap judul film kejahatan Hollywood. Boleh juga jika dibilang keterlibatan geng cewe malah membuat film ini terlihat unik.

Tetapi di balik itu semua, entah kenapa tetap ada yang mengganjal di pikiran. Setelah menonton hampir separuh film, saya pun jadi yakin kalau Ocean’s Eight menyimpan misi propaganda isu yang belakangan ini sedang populer di Hollywood. Bukan, tak hanya isu emansipasi perempuan, tetapi juga kecenderungan feminisme Hollywood yang dibalut nuansa glamor dan perilaku konsumeris. Saya pribadi kurang nge-fans dengan gaya feminis ala artis Amerika, apa lagi konsumerisme perempuan, malah cenderung membenci.

PARA PEREMPUAN PENCURI

Masih mengikuti tradisi seri Ocean, Ocean’s Eight juga bertutur tentang curi-mencuri. Kali ini yang harus dicuri adalah sebuah kalung berlian mewah yang dipinjamkan oleh Cartier kepada artis Daphne Kluger (Anne Hathaway), untuk di-endorse (dipakai) dalam perhelatan akbar Met Gala. Met Gala sendiri merupakan event asli tahunan yang diselenggarakan oleh majalah Vogue dan dihadiri undangan penting dari kalangan artis dan dunia fashion.

Kalung Touissant incaran sepanjang film
Pada fase pembukaan film, diketahui bahwa Debbie Ocean (Sandra Bullock), sang pemimpin geng merupakan adik Daniel Ocean (George Clooney) dari seri Ocean sebelumnya. Dibantu oleh Lou (Cate Blanchett), sahabatnya sekaligus seorang pengoplos minuman keras, Debbie yang kala itu baru keluar dari penjara berusaha merekrut orang-orang dengan keahlian khusus untuk membantu aksinya mencuri kalung berlian Touissant dari leher Daphne. Sayangnya, plot cerita ini terkesan hanya menyadur dari plot film Ocean's Eleven.

Kendati demikian, Ocean's Eight tetap berupaya memberi sentuhan baru dengan memasukan sudut padang perempuan sebagai pemeran utama. Ketika Lou mengusulkan untuk merekrut laki-laki ke dalam tim mereka, Dabbie malah menolak. Menurut Debbie, dalam aksi kriminal laki-laki cenderung diwaspadai. Sebaliknya, tidak ada yang menggubris perempuan. Setelah Lou, kemudian bergabung Rose Weil (Helena Bonham Carter), desainer terkenal yang depresi lantaran terlilit hutang dan kasus penggelapan pajak. Nine Ball (Rihanna), hacker perempuan kenalan Lou. Tammy (Sarah Paulson), ibu rumah tangga mantan penyelundup barang-barang mewah dari luar negeri. Lalu, mereka juga merekrut ahli berlian bernama Amita (Mindy Kaling) dan seorang pencopet bernama Constance (Awkwafina).

Ocean's Eight tengah menyusun rencana pencurian
IKLAN BERJALAN

Di luar narasi emansipasi yang membuat film ini makin menarik, sebenarnya Ocean’s Eight membawa misi lain yang menurut saya agak “jahat”. Film besutan sutradara/penulis naskah Gary Ross ini menunjukan betapa perempuan harus mensyukuri bahwa mereka adalah seorang pembelanja ulung, meski harus melanggar hukum sekalipun. Tak hanya itu, produk placement kosmetik dan referensi yang mengarah kepada berlian Cartier dan lifestyle glamour khas majalah Vogue digelar menjejali sepanjang film.

Ocean’s Eight nampaknya memang sekedar ingin mengangkat nilai hidup glamour selebriti Hollywood yang disamarkan menjadi film thriler kriminal. Layaknya Met Gala sungguhan, film ini juga menampilkan parade cameo selebriti-selebriti ternama seperti Kim Kadarshian, Heidi Klum, Katie Holmes, Dakota Fanning, Serena Williams, dkk. Semuanya berdandan mewah khas acara red carpet.

Sayangnya, semua narasi kemewahan ini tidak diakhiri dengan resolusi yang memuaskan. Seolah perempuan-perempuan utama dalam kisah ini memang tidak pernah mempertanyakan simbol-simbol kemewahan yang selama ini memaksa mereka menjadi seorang kriminal dan pandai tipu muslihat demi mendapatkan ketenangan hidup sesuai standar masyarakat kelas atas.

Debbie menunjukan kepiawaiannya mencuri kosmetik
Padahal, ideologi seorang Debbie Ocean sendiri sangat menarik untuk digali, mengingat ia tidak mencuri demi mendapatkan uang. Sesaat sebelum operasi pencurian dimulai, Debbie mengatakan kepada girl’s squad-nya bahwa mereka tidak melakukan hal tersebut untuk diri sendiri, melainkan untuk seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang bermimpi menjadi seorang kriminal. Saya rasa, Debbie sedang berbicara tentang masa kecilnya sendiri.

Meskipun dialog tersebut cukup membekas, tetapi tidak ada tindak lanjutnya. Tidak ada momen flashback tentang masa kecil Debbie atau alasan kenapa dia mencuri. Penonton justru diarahkan agar memahami bahwa Debbie melakukan pencurian itu lantaran dendam kepada mantan pacarnya yang bernama Claude Becker (Richard Armitage) yang dahulu pernah menjebaknya hingga masuk penjara.

FEMINISME HOLLYWOOD

Sejak Taylor Swift membuat istilah girl’s squad mendunia, geng cewe selebriti Amerika memang sudah identik dengan kampanye pro feminisme. Perempuan-perempuan ini membentuk kelompok demi mengenyahkan stereotipe gender yang selama ini merugikan perempuan dalam industri hiburan. Saya rasa, ini memang merupakan satu upaya yang bagus, pada awalnya.

Debbie bersama girl's squad-nya yang glamour
Lama kelamaan, saya jadi agak risi melihat geng cewe dalam tradisi Hollywood. Sebab, geng cewe berpaham feminis terkesan digambarkan suka memusuhi laki-laki, baik dalam musik atau film. Representasi media feminis semacam ini acap kali berusaha menghapus kehadiran laki-laki dan menggantinya dengan perempuan. Ide semacam ini bisa dilihat dalam pameran lukisan “Penciptaan Adam” karya Michelangelo pada video klip Ariana Grande "God is A Woman" yang dibuat ulang dengan menggunakan figur-figur perempuan. Ocean’s Eight sendiri juga membawakan ide serupa melalui adegan di mana saat Dabbie dan Tammy berkunjung ke Museum Seni Metropolitan di New York untuk mengetes sistem keamanan museum, mereka sempat-sempatnya memasang replika lukisan George Washington karya Emanuel Leutze yang diganti wajah dan perawakannya menjadi perempuan. Motif utama aksi Debbie dalam Ocean’s Eight lantas juga menjadi agak cheesy setelah terkuak bahwa semua itu hanya akibat dendam kepada laki-laki.

Emanuel Leutze "Washington Crossing the Delaware" versi Ocean's Eight
Michelangelo "Creation of Adam" versi Ariana Grande
Ketimbang berkompromi dengan representasi dominan laki-laki, geng cewe dalam tradisi feminis Amerika seolah ngotot bahwa laki-laki yang selama ini mendominasi seluruh aspek kehidupan patut disalahkan dengan jalan menghapus mereka. Cara ini sebenarnya sudah kuno, karena memang cara lawas sistem politik laki-laki menyingkirkan figur perempuan sepanjang sejarah umat manusia. Jadi, sebagaimana apa yang dilakukan Debbie, mungkin memang feminisme Hollywood ada berkat rasa dendam. (Ind)

Sabtu, 22 September 2018

Film The Walk (2015), Meniti Impian di Puncak Dunia

Official Poster

Waktu Indi ngasih film ini, dia hanya bilang kalau ini adalah kisah nyata. Sejujurnya perkataan tersebut tidak begitu membangkitkan minatku untuk menonton karena kedengarannya film ini akan sangat membosankan. Terlebih dengan durasinya yang nyaris dua jam. Dari covernya bisa dilihat sepertinya ini memang berkisah tentang artis akrobatik yang menaklukan dua buah gedung pencakar langit diatas seutas tali.

Akhirnya pada suatu waktu, aku menyempatkan diri untuk menonton film ini dengan penuh konsentrasi. Diluar dugaan aku malah menyukai film ini. Film ini jauh dari kata bosan yang selalu aku bayangkan. Setelah selesai menonton, aku baru tahu bahwa film ini disutradarai oleh Robert Zemeckis. Kalau dari awal aku sudah tahu bahwa beliau yang menyutradarai film ini, mungkin aku tidak akan menunda-nunda untuk menontonnya.

Film ini berkisah tentang Phillipe Petit, seorang artis akrobat asal Perancis yang memiliki ambisi untuk berjalan diatas tali secara illegal diantara dua twin tower legendaris, yaitu World Trade Center. Selain menceritakan kisah sang artis, film ini juga sekaligus untuk mengenang gedung WTC yang telah hancur pada 11 September 2001 silam. Di waktu berdirinya, bangunan tersebut memiliki masa kejayaannya sebagai bangunan tertinggi di dunia.

Pemilihan aktor Joseph Gordon-Levitt sebagai pemeran Phillipe Petit emang ga keliru. Levitt sendiri telah dilatih oleh Phillipe Petit dalam workshop delapan hari. Hal itu berbuah pada keberhasilannya untuk meniti diatas tali pada ketinggian 10 kaki.

Phillipe Petit diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt
Berjalan diatas tali bukanlah hal yang mudah, butuh keseimbangan, konsentrasi serta persiapan mental untuk melakukannya. Semua itu tidak terlepas dari pikiran yang positif. Hal itulah yang mungkin berusaha ditanamkan oleh sang legenda akrobat kepada semua orang. Tentunya yang memukau dari film ini adalah dukungan teknologi sinema 3D dan IMAX yang membuat kita seolah-olah ikut merasakannya. Sangat disayangkan aku tidak menontonnya di bioskop. Film ini pastinya akan sangat terasa indah sekaligus menegangkan jika ditonton dengan layar yang besar.

Meskipun memiliki durasi dua jam, Robert Zemeckis benar-benar pandai mengemas keseluruhan perjalanan sang artis dengan baik dan mudah dinikmati. Levitt selaku bintang utama dibiarkan menjadi seorang narator yang mengisahkan perjalanan tersebut dengan gaya bicara yang interaktif. Penceritaannya nampak tak bertele-tele. Semua adegan terlihat mengalir begitu saja.

Klimaks yang paling ditunggu dalam film ini adalah saat pelaksanaan eksekusi rencana yang sudah dipersiapkan selama kurang lebih enam tahun ini. Pada tahun 1974, Phillipe Petit benar-benar mewujudkan penitiannya diatas langit. Ambisi seorang Petit menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa tidak ada satu hal pun yang tak bisa digapai jika kita mau berusaha dan pantang menyerah. Ada begitu banyak kendala yang ditemuinya, tetapi karena kegigihannya ia berhasil mengatasi hal tersebut meskipun harus diiringi resiko baru lagi.

Meniti Tali di Puncak Dunia
Seandai Indi tak pernah memberitahu atau mungkin aku tak pernah menyimak bagian pembuka film ini, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa ini adalah kisah nyata. Kisah ini terkesan fiktif namun sebagian besar kejadian memang benar adanya. Dimulai dari menyamar sebagai pekerja konstruksi, aksi telanjang bulat, kaki yang terinjak paku dan masih banyak lagi. Tapi menurutku disitulah letak kesuksesan seorang Robert Zemeckis dalam menyutradarai fim ini. Ia mampu meramu film ini menjadi tontonan yang menarik dan jauh dari kata bosan, sehingga penonton bisa larut dalam ceritanya. (Ai)

Sup Mirip Teh di Film Rosemary’s Baby (1968)



Kali ini aku mau bahas salah satu makanan dari film horor Rosemary’s Baby yang rilis tahun 1968. Mungkin film ini emang udah jadul banget dan pemainnya sekarang udah pada tuir banget. Tapi tetap aja, menurut aku ini adalah salah satu film terbaik sepanjang masa. Aku yakin, para pecinta film pasti masih banyak yang memburu film ini.

Aku mau nunjukin salah satu adegan hidangan yang diberikan ke Rosemary pasca melahirkan. Dalam satu nampan kelihatan tersaji dua potong roti bakar yang dibelah secara horizontal bersama semangkuk sup berwarna coklat kemerahan. Sepintas kelihatannya seperti air teh. Perasaan aku sering nemu menu sup semacam ini di beberapa film bule. Kali-kali ada orang lain yang sama penasarannya.

Salah Satu Cuplikan Sup Mirip Teh
Buat yang profesinya koki atau chef di restoran dan hotel berbintang mungkin bisa langsung nebak namanya apaan. Begitu juga dengan beberapa murid dan mahasiswa/i yang pernah kuliah tata boga dan food & beverage. Soalnya makanan ini tuh salah satu basic soup yang wajib dipelajari, yaitu consommé soup.

Consommé asalnya dari negara Perancis. Dibuat dari saripati tulang/ daging (umumnya ayam atau sapi), bawang putih, thyme, mirepoix (seledri, bombay dan wortel), putih telur, serta beberapa bahan tambahan lainnya supaya rasa, warna dan aromanya makin oke.

Semua bahan direbus dengan besaran temperatur api yang berbeda-beda supaya saripatinya keluar dan airnya ga keruh. Setelah itu, sup disaring dan siap pakai. Sop yang satu ini bisa juga disimpan di lemari pendingin buat diolah lain waktu.

Nah, kebetulan nih dalam film ini si Rosemary kan emang didiagnosa mengalami postpartum. Itu loh semacam kondisi depresi berat setelah melahirkan. Emang katanya untuk orang dengan kondisi begitu harus dikasih makanan yang bergizi dan mudah dicerna. Makanya sup consommé ini emang pas banget buat doi yang kerjaannya was-was sama histeris melulu di sepanjang film.

Oke deh, sampai disini dulu. Semoga tulisan ini cukup menghibur dan menambah sedikit wawasan di bidang kuliner. Jangan lupa filmnya ditonton, biar tahu keseruan ceritanya. (Ai)

Selasa, 18 September 2018

Menebak Nama Makanan di Film Wallace and Gromit dan Shaun the Sheep


 Menu Bangers and Mash

Pernah ga sih kalian merasa penasaran sama makanan yang ada di suatu film baik animasi atau live action? Jika pernah, maka kalian sama dengan aku yang sempat penasaran dengan kesamaan menu di serial TV Shaun the Sheep berjudul The Magpie (season 2, episode 31) dan Wallace and Gromit: a Matter of Loaf and Death. Menariknya, kedua film ini memang sama-sama besutan Aardman Animations yang terkenal dengan animasi bergaya stop motion. Nah, ini yang membuat aku berpikir bahwa makanan yang dimakan Wallace dan Mr. X (Shaun the Sheep) kemungkinan ada di dunia nyata.

Mr. X (kiri) dan Wallace (kanan) sedang menyantap makanan aneh

Sepintas jika kita lihat, makanan tersebut nampak seperti sosis yang ditancap ke dalam gundukan krim. Setelah aku melakukan pencarian, sepertinya aku udah menemukan nama menu yang dimakan oleh kedua karakter tersebut, yaitu Bangers and Mash.

Menurut Wikipedia, Bangers and Mash atau yang juga dikenal Sausage and Mash adalah menu tradisional di Inggris Raya dan Irlandia. Jenis sosisnya bisa dari daging apa saja, baik itu babi, sapi dan domba. Umumnya makanan ini disajikan bersama mash potato (kentang tumbuk) dan jenis kacang-kacangan (polong) dan disiram dengan onion gravy (sari kuah dari bawang bombay). Akan tetapi, makanan yang tampak di kedua film tersebut nampak hanya berupa sosis dan kentang tumbuk saja.

Hal lain yang menguatkan adalah Aardaman Animations merupakan studio animasi yang berasal dari Inggris, sehingga memiliki kaitan erat dengan menu yang satu ini.

Oke kira-kira begitu pembahasanku soal hidangan yang dulu sempat kukira es krim sosis itu. Semoga info kali ini cukup menghibur. (Ai)