Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2018

PENGALAMAN PUTING GATAL DAN BERNANAH (Bukan Topik Terlarang)

Ilustrasi Gatal pada Puting

Kali ini aku mau share salah satu penyakit yang pernah aku alamin pada tahun 2011. Waktu itu aku masih kuliah di perguruan tinggi Bandung dan untungnya kegiatan perkuliahan ga terlalu padat karena ada pekan kesenian mahasiswa.

GEJALA AWAL

Udah beberapa minggu aku ngerasa gatel di bagian (maaf) kedua putingku. Aku yang ga tahan akhirnya menggaruk bagian tersebut. Eh, semakin lama semakin gatal aja tuh dan aku semakin semangat menggaruk. Alhasil terjadi lecet dibarengi rasa perih dan gatal yang silih berganti.

Makin lama, putingku berkoreng dan keraknya tebal banget. Bentuk putingku udah ga karuan dan menurutku menjijikan. Teman sekamarku di asrama ampe ngernyit dahinya kalau aku perlihatkan area tersebut. Udah gitu keluar nanah pula. Kalo pake bra sampai lengket waktu mau dilepas. Aku telpon mamaku dan disuruh beli sofra-tulle semacam kassa tempel sama disuruh beli salep kalmicetine juga. Tapi ga kunjung sembuh.

Aku nyoba cari informasi ke mbah google, malah nyasar ke artikel indikasi tumor atau kanker payudara. Semakin ngeri, aku akhirnya memutuskan pergi ke salah satu rumah sakit negeri yang ada di Bandung. Waktu itu aku pake asuransi negeri sebut saja yang mereknya AN. Prosedurnya ga bisa langsung ke dokter spesialis kulit & kelamin, tapi harus ke internis (bagian penyakit dalam). Baru dari sana, dokter internis lah yang berhak menentukan aku bisa dilempar ke bagian apa.

Lalu, dokter ini ngasih aku obat-obatan diminum saja, kalau ga sembuh ya balik lagi. Salah satu obatnya yang kuingat itu namanya Aerius. Ternyata aku ga kunjung sembuh dan malah badanku gatal-gatal dan merah-merah (kayaknya aku alergi sama salah satu obatnya).

Aku balik lagi dan disuruh USG payudara. Bayangkan! USG payudara! Dimana area sensitif kalian akan ditekan dengan sebuah alat yang meluncur di permukaan payudara yang sudah diberi pelumas. Bayanginnya ngilu sodara-sodara!

Sepanjang tindakan USG rasanya ga nyaman dan benar aja geli dan ngilu. Dokternya juga marah-marah pula karena aku jerit-jerit dan ga bisa diam. Sayangnya, biaya tindakan USG ga di cover sama asuransi, jadi aku harus merogoh kocek sekitar beberapa ratus ribu. Agak lupa harganya mungkin 300 atau 400 gitu dan aku harus ngutang dulu sama temanku (sekarang udah lunas kok utangnya). Udahan gitu menurut hasil USG sama sekali ga ada indikasi tumor atau kanker. Cukup lega walau sedih juga udah keluar uang gede. T_T

Akhirnya dokter internis baru memutuskan aku dirujuk ke bagian spesialis kulit dan kelamin (ya ampun dari kemaren, kek). Sebelumnya dia sempet bilang ada kemungkinan harus biopsy. Buat yang ga tau biopsy itu apa, kira-kira itu tindakan pengambilan sample jaringan untuk diperiksa di laboratorium. Makin ngeri aja deh aku. Apesnya waktu itu aku ga ketemu-ketemu sama dokter spesialis kulit karena kesorean lah, dokternya cuti lah, ini lah itu lah. Badanku mana panas dingin, kudu naik angkot, naik turun tangga asrama. Intinya Hayati udah lelah menunggu dan memutuskan untuk menyebar rahasia kepada semua orang yang ditemui dengan harapan dapat solusi.

Mereka suruh aku pake beha bidadari lah (benda apa itu??). Terus abon ikanku diambil seseorang karena dia bilang “Kamu lagi ga bisa makan ini kan? Buat saya saja, ya?” ada juga yang bercandain “Garuk aja pake pisau!” (oke yang ini udah ga lucu) dan masih banyak nasehat menyesatkan lainnya.


PULANG KE RUMAH DAN BEROBAT KE DOKTER LAIN

Singkat cerita. Aku menderita selama kurang lebih dua minggu, klo ngampus kadang aku ampe ga pake bra dan nunduk-nunduk malu takut ada yang tahu. Akhirnya aku pulang ke rumah di Tangsel dan dibawa berobat ke klinik dekat rumahku. Sama dokter yang ini aku disuruh kompres bagian areola menggunakan kassa dan rivanol sampai korengnya lembek dan bisa dikupas. Kata bu dokter korengnya emang harus dikupas karena itu penyebab nanahnya.

Setelah aku lakukan saran bu dokter, kukira aku udah nemu dokter penyelamatku. Tapi ternyata korengku ga sembuh-sembuh. Aku sampai nangis-nangis karena putus asa, karena aku pikir sampai dua orang dokter bahkan ga bisa bantu aku sembuh.


AWAL KESEMBUHAN

Benoson-N,
Salep Penyelamatku
Tiba-tiba mamaku nyodorin sebuah salep yang harganya cuma 10 ribu. Mereknya Benoson N. Aku yang udah putus asa dan pergi ke dokter bolak balik ya mana yakin pake salep murmer begitu bisa sembuh. Dengan berat hati aku tetap ngolesin salep itu walau sebenarnya udah hopeless banget. Tak disangka-sangka pemirsah! Ternyata dalam beberapa jam saja saya langsung merasakan efeknya! Koreng yang selama berminggu-minggu menebal dan retak-retak bernanah berangsur-angsur jadi lembek.

Menurut aturan pakai, aku harus pakai 3 kali sehari untuk pengobatan. Ya, kuturutin aja petunjuknya. Hanya dalam sehari rasa gatal dan perih reda seketika. Besoknya aku udah bisa pake bra dengan nyaman.

Demikian pengalaman dari saya wahai para pembaca yang budiman. Penyakit yang saya kira awalnya adalah santet, ternyata bisa sembuh dengan salep seharga 10 ribu rupiah saja. Katanya sih penyakit ini emang sering dialamin sama orang yang punya riwayat alergi (kebetulan aku memang punya alergi).


Ohya, penyakit ini juga masih suka balik lagi kalo musim kemarau XD tapi ya aku punya senjatanya, yaitu pake salep yang ada kandungan betamethasone-nya. Dulu pernah juga sempat konsul ke rumah sakit negeri yang ada di Jakarta Selatan dan dikasih dua jenis salep (aku lupa satunya merek apa), tapi yang satunya merek ezerra (ada gambar boneka beruangnya). Aku sempat mikir seandainya aku ketemu dokter ini duluan mungkin aku ga perlu keluar uang banyak dan menderita berminggu-minggu. Oke, deh sekian dulu informasi dari aku. Semoga artikel ini bermanfaat buat kalian yang sedang mengalami hal sama. Salam sehat! (Ai)

Kamis, 28 Desember 2017

Tergila-gila dengan Topokki: Si Putih Kenyal Berbalut Saus Merah



Topokki, Sumber: maangchi.com
Seiring dengan memuncaknya pengaruh Hallyu (Korean Wave) sejak tahun 1990, turut memberikan dampak terhadap boomingnya band-band asal Korea selatan di Indonesia pada kisaran 2007 lalu. Hal-hal berbau Korea selatan mulai diminati, dimulai dari perfilman, produk elektronik, industri musik, budaya dan tak ketinggalan makanannya.

Mungkin kebanyakan diantara kalian sudah banyak yang tahu dengan makanan-makanan Korea. Sekarang menu-menu khas negeri ginseng tersebut begitu mudah ditemukan dimana-mana dengan variasi harga yang cukup terjangkau. Tapi aku ingin sedikit cerita mengenai rasa penasaran yang pernah melandaku di tahun 2013. Pada saat itu, topokki masih agak sulit ditemukan. Kini topokki merupakan salah satu menu wajibku kalau mampir ke restoran Korea.

Kalau ditanya “Kenapa harus topokki? Bukan jajangmyeon, gimbap atau kimchi?" Agak sulit untuk menjelaskannya. Tapi yang pasti aku penasaran karena ga dapat gambaran rasanya kayak apa. Kira-kira begitulah alasan utamaku.

Kue yang seperti Pasta
Tepatnya pada tahun 2013 lalu, aku mulai penasaran dengan satu makanan yang sering muncul di drama-drama Korea bernama kue beras pedas. Warnanya putih-putih panjang berbentuk silinder, berbalur saus merah yang menggoda. Waktu itu rasanya kepengen banget nyobain makanan yang ternyata bernama Tteokbokki itu atau kita tulis saja Topokki. Rasa penasaran yang menghantuiku dikarenakan makanan tersebut terlihat seperti menu pasta Penne Arrabbiata. Untuk sekedar info, Arrabiattta adalah  saus pedas khas Italia yang terbuat dari bawang putih, tomat dan cabai merah kering.

Topokki atau yang dalam bahasa inggrisnya disebut dengan korean rice cake, memiliki tekstur yang kenyal dan lengket. Jika kalian melihat tutorial pembuatannya di youtube, makanan ini hanya memerlukan satu bahan utama yaitu tepung beras. Namun tepung beras yang digunakan bukanlah jenis tepung beras yang biasa ada di Indonesia. Jenis beras Indonesia dengan Korea sangatlah berbeda. Maka dari itu kita tidak akan bisa membuat kue beras ini dengan merek tepung beras yang biasa wara wiri di layar televisi kita.

Selain topokki, ada juga tteokkochi, kalau aku boleh bilang mungkin nama lainnya adalah sate topokki. Keduanya sama-sama menggunakan bumbu gochujang sehingga berwarna merah menyala. Perbedaan keduanya hanya di bentuk sajiannya serta bumbu racikan dalam saus gochujang-nya. Saus topokki biasanya menggunakan campuran kaldu dashi (rumput laut konbu dan anchovy) yang dimasak bersamaan dengan bahan pelengkap lainnya seperti sayur-sayuran, bakso ikan, telur dan banyak lagi. Sementara tteokkochi disajikan dengan cara disate dan bumbu gochujang-nya menggunakan campuran saus tomat.

Tteokkochi atau Sate Topokki
Pengolahan Tteok Mirip dengan Mitarashi Dango dari Jepang
Di Jepang ada salah satu kue kenyal manis yang mirip pengolahannya dengan tteok (bahan dasar topokki). Namanya adalah mitarashi dango. Bedanya, mitarashi dango berbentuk bulat kecil-kecil dan disate. Dango yang satu ini disajikan dengan siraman saus mitarashi manis dan kental yang terbuat dari soyu (kecap Jepang). Sementara topokki identik dengan tteok berbalur saus gochujang (pasta cabai fermentasi dari Korea). Kenapa aku bilang sama?? Karena Jepang dan Korea memiliki jenis beras yang sama, yaitu short grain. Beras short grain yang berasal dari kedua negara di wilayah Asia Timur tersebut, biasa dikenal dengan sebutan beras sushi. Beras sushi memiliki bentuk bulir pendek dan cenderung bulat, yang jika dimasak memiliki tekstur yang lengket. Mitarashi Dango sendiri terbuat dari bahan utama joshinko (tepung beras Jepang).

Mitarashi Dango dari Jepang
Memulai Pencarian Topokki
Kembali dengan rasa penasaranku terhadap topokki, akhirnya Indi mengajakku untuk mencoba topokki pertama kalinya di Lottemart Bintaro. Kami pergi kesana dengan menggunakan kereta. Di dalam Lottemart ada stan makanan yang menjual beberapa menu Korea, seperti kimchi, odeng dan tidak ketinggalan topokki. Kami pun lalu memesan topokki.

Alhasil, aku langsung jatuh hati pada gigitan pertama. Alasannya sih sebenarnya gara-gara rasa sausnya manis. Aku ini kalau kata orang, lidahnya jawa banget karena doyan makanan bercita rasa manis. Topokki yang kami pesan saat itu harganya sekitar Rp 30.000.

Setelah pengalaman memakan topokki di Lottemart aku berusaha mencari-cari lagi makanan tersebut karena kepengen. Kalau harus jauh-jauh pergi ke Bintaro hanya untuk makan toppoki aja rasanya ga mungkin deh. Kebetulan waktu itu ada ekspatriat orang Korea selatan yang tinggal tak jauh dari kampusku. Istrinya sempat membuka kedai masakan Korea. Mungkin si ibu menyadari peluang bisnis ini karena Indonesia lagi demam Korea. Kedai tersebut juga menjual topokki. Kemudian aku mencoba untuk membeli takeaway sebanyak satu porsi. Harganya saat itu sekitar Rp 15.000. Sampai di rumah aku langsung mencicipinya. Sayang bau gochujang-nya menyengat banget udah gitu rasa tteok-nya agak mentah. Tapi karena packaging-nya menggunakan kemasan tempat makan yang bisa dimasukan ke microwave, jadi untuk harga segitu boleh dibilang murah banget.

Kapok dengan topokki yang dekat kampusku, aku beralih untuk mencoba membeli topokki dari sebuah online shop yang aku temukan di mbah google. Waktu makanannya datang pertama kali, aku excited banget. Rasa tteok-nya enak banget walau tanpa saus. Kalau dimakan begitu aja akan tercium aroma harum mirip nasi dari beras pandan wangi dan rasanya samar-samar gurih manis. Harganya kalau tidak salah waktu itu sekitar Rp 38.000 untuk ukuran 500 gram, belum termasuk ongkos kirim. Sayangnya aku harus kembali kecewa karena bumbu pembalurnya bukan terbuat dari gochujang, melainkan lebih mirip dengan rasa saus tomat botolan.

Topokki dari Online Shop
Kemudian suatu hari temanku menawarkanku untuk nitip beli tteok mentah di Papaya Bandung, beserta dengan bumbu instan topokki-nya. Dan ternyata setelah produknya sampai di tangan, rasanya persis seperti topokki yang pernah kucicipi di Lottemart Bintaro. Akhirnya rasa penasaranku terobati juga. Waktu itu aku beli yang 500 gram tteok, beserta bumbu instannya dua bungkus. Untuk harganya, aku sudah lupa berapa rinciannya.

Toppoki dari Papaya Bandung
Oke, demikianlah ceritaku soal si maknyus topokki. Walau ceritanya udah lama, tapi entah kenapa makanan ini selalu membuatku pengen memakannya lagi dan lagi. Karena di tahun 2017 ini udah jamannya delivery dengan aplikasi ojek online, aku bisa pake jasa ini kalo lagi kepengen banget. Bahkan bisa juga membeli bahan dan sausnya di aplikasi toko-toko online. Ga kayak dulu kalau lagi kepengen, sampai bingung harus beli kemana. (Ai)

Senin, 25 Desember 2017

Pengalaman Operasi Lepas Pen Kaki

Takut Operasi Lepas Pen di Kaki

Setelah Keluar dari Ruang Operasi
Seperti yang sudah kuceritakan pada tulisanku yang sebelumnya aku telah melakukan operasi pemasangan pen pada tanggal 2 Februari 2014. Menurut dokter yang mengoperasiku, pelepasan pen sudah bisa dilakukan minimal satu tahun setelah pemasangan. Demikian juga pemakaian pen sebaiknya tidak lebih dari dua tahun.
 
Sejujurnya entah kenapa aku takut banget buat menjalani operasi pelepasan pen ini, sampai-sampai aku nangis saking takutnya. Padahal seumur hidup aku sudah pernah menjalani empat kali operasi (amandel, tulang hidung bengkok, usus buntu dan pemasangan pen). Yang membuat aku takut adalah bius spinal yang menimbulkan sensasi rasa kesetrum di area tertentu. Pada proses pembiusan spinal saat operasi pemasangan pen, aku sempat bergerak karena kaget. Padahal kalau bius spinal itu benar-benar ga boleh bergerak selama proses penyuntikan. Namun pada akhirnya, aku menjalani operasi pelepasan pen pada tanggal 5 Mei 2017.

Proses Pemulihan Pasca Operasi Lepas Pen

Sama seperti operasi yang sebelumnya, jahitan baru bisa dibuka minimal 2 minggu setelah operasi. Selama itu aku dilarang berjalan menggunakan kaki kananku, sehingga untuk berjalan aku menggunakan bantuan tongkat kruk dan bertumpu pada kaki kiriku. Setelah jahitan dibuka, dokter memperbolehkanku jalan dengan kedua kaki namun tetap menggunakan kruk selama 2 minggu, alasannya?? Haha karena tubuhku gemuk. Jadi sebenarnya menurut dokter, aku sudah boleh berjalan tanpa kruk jika badanku langsing. Karena aku ingin cepat pulih tentu saja kuturuti saran dokter. Sebulan setelah operasi aku baru benar-benar bisa berjalan tanpa bantuan apapun.
 
Untuk jaga-jaga selama tiga bulan aku ga melakukan aktifitas yang memberatkan kakiku. Aku menghindari untuk mengangkat barang-barang berat, naik turun tangga atau berdiri terlalu lama. Maklum aku jadi ekstra hati-hati, pernah mengalami patah tulang bukanlah pengalaman yang mudah untuk dilalui.

Kenapa Harus Operasi Lepas Pen??

Kenapa harus operasi Lepas Pen?? Itu karena pemakaian pen jangka panjang justru bisa beresiko patah tulang di bagian lainnya. Alasannya karena tulang bersifat elastis sementara pen adalah benda padat, sehingga kemungkinan akan terjadi tarik menarik. Apalagi karena letaknya di kaki yang pastinya akan sering digunakan untuk berjalan setiap saat. Menakutkan bukan!? Maka dari itu meskipun takut, kukumpulkan segenap tekad untuk menjalani operasi tersebut. Operasinya pun hanya memakan waktu kurang dari setengah jam. Tidak seperti operasi pemasangan pen yang memakan waktu satu setengah jam. Terlebih karena bius spinal membuat pasiennya tetap sadar, pastinya akan sangat membosankan jika harus menunggu lama-lama.

Pen yang Diberikan Pasca Operasi Pelepasan
Rasanya lega banget, karena selama kurang lebih 3 tahun memakai pen aku merasa kurang bebas. Terkadang ada rasa nyeri yang luar biasa. Pernah aku nyaris kepeleset karena lantai licin, ada rasa ngilu akibat tulang yang menegang beradu dengan pen. Ada kalanya aku merasa kakiku sangat pegal di daerah betis. Saat masih memakai pen aku menuruni anak tangga dengan mendahulukan kaki kiri, karena rasanya sakit jika menapak dengan kaki yang ada pennya. Kini semua rasa sakit itu sudah hilang. Penaklukanku akan rasa takut menaiki meja operasi telah terbayarkan.

Mitos Memakai Pen: Udara Dingin Ngilu, Ada Petir Kesetrum???

Pen yang Sudah Dibersihkan
Banyak yang bilang soal mitos memakai pen, yaitu jika udara sedang dingin akan sangat ngilu. Malahan ada juga yang lebih ngaco lagi bilang kalau ada petir bisa kesetrum. Cuma bisa cengar-cengir kalau ingat semua perkataan orang-orang itu. Yang jelas aku buru-buru lepas pen bukan karena mitos itu. Seperti yang kuceritakan tadi, aku lebih takut resiko patah lagi. Ngilu yang aku rasain hanya kadang-kadang, baik saat cuaca panas ataupun dingin. Biasanya rasa ngilu timbul akibat aku terlalu banyak berjalan alias terlalu capek. Kalau kesetrum pas ada petir, lebih-lebih lagi ga pernah. Mungkin iya bisa kesetrum asalkan aku berdiri di tengah lapangan luas atau duduk dekat pohon pas lagi banyak petir. Lagian itu namanya bukan kesetrum, tapi kesamber petir.

Oke sekian cerita operasi pelepasan pen di kakiku. Bagi kalian yang mungkin masih mikir dua kali buat lepas pen atau ga, aku sarankan dengan amat sangat sebaiknya iya. Jangan takut, banyak berdoa, minta support dari orang-orang tersayang. Biasanya dokter anastesi (yang bertugas membius) akan berusaha menenangkan pasien yang ketakutan saat di ruang operasi, jadi dijamin rasanya ga akan terlalu tegang-tegang amat. (Ai)

Jumat, 08 Desember 2017

Ketagihan Nonton Game of Thrones



Gara-gara penasaran dan juga diracunin Indi, akhirnya aku nonton juga serial Game of Thrones yang katanya lagi hits di seluruh dunia. Film ini diadaptasi dari novel G.R.R. Martin yang berjudul ‘A Song of Fire and Ice’. Ga nyangka juga ternyata sampai ketagihan nonton film ini, padahal aku ga terlalu suka sama film epic apalagi kalau harus digabung sama genre fantasy. Serial ini udah rilis dari tahun 2011, tapi aku baru nonton dan ketagihan di tahun 2017. Aku cuma perlu waktu kurang lebih dua bulan buat menyelesaikan nonton dari season 1 ke season 7. Sekarang malah udah ga sabar nunggu rilis season delapannya, yang ternyata bakal jadi episode terakhir.

Tidak sabar nunggu S8 tahun depan.
 Film ini kira-kira menceritakan tentang perebutan Iron Throne oleh sejumlah klan (yang biasa disebut awalan nama klannya dengan ‘House’). Mereka mengklaim kepemilikan tahta. Serial GoT diawali dengan penguasaan Iron Throne oleh Robert Baratheon yang berasal dari House Baratheon. Jauh sebelum Robert berkuasa, Iron Throne dirampas olehnya melalui peristiwa Robert Rebellion dari House Targaryen. Namun Targaeryen yang tersisa telah lama merencanakan merebut kekuasaan dari daratan di seberang Westeros (daratan tempat Seven Kingdoms berada) yang dipisahkan oleh lautan bernama Narrow Sea. Konflik perebutan semakin menjadi-jadi saat Robert Baratheon wafat, sehingga otomatis Joffrey putra pertamanya naik tahta menjadi raja. Namun berhembus kabar bahwa Joffrey merupakan anak hasil incest antara ibunya, Cersei Lannister dengan saudara kembarnya yang bernama Jaime Lannister, sehingga kedua adik Robert, yaitu Stannis dan Rainley merasa Iron Throne adalah hak mereka. Kemudian konflik perebutan ini akan semakin rumit dan bikin terkejut di setiap seasonnya. Ya ga heran sih judul filmnya aja Game of Thrones atau bisa diartikan ‘Permainan Tahta’. Banyak plot tidak terduga dalam film serial ini. Film ini cukup rekomendasi buat kalian yang suka cerita film dengan konflik dan plot yang rumit.
Sekedar gambaran, Iron Throne merupakan sebutan untuk kursi singgasana raja di Seven Kingdoms. Jujur aja waktu pertama kali ngeliat bentuknya benar-benar jauh dari kesan mewah atau elegan, yang ada malah mikir tuh kursi bentuknya serem banget. Tapi ternyata itu ada makna filosofisnya, karena dulu Aegon Targaryen atau biasa disebut Aegon the Conqueror, mengalahkan musuh-musuhnya dan menyatukan ketujuh kerajaan yang dulunya berdiri sendiri-sendiri sehingga dinamakan Seven Kingdoms. Pedang-pedang musuh yang dikalahkan Aegon dikumpulkan dan ditempa jadi Iron Throne, jadi makna filosofisnya ga mudah buat menduduki Iron Throne itu karena harus mengalahkan ribuan musuh. Nah buat para penerus Iron Throne dari House manapun menurut aku wajib berterimakasih sama moyangnya House Targaeryen soalnya kalau bukan karena Aegon mana mungkin tuh tujuh kerajaan bisa diperintah oleh satu raja.
Hal-hal yang aku suka di film ini:
1)      Konflik yang real tentang perebutan kekuasaan. Dimana orang-orang digambarkan haus akan kekuasaan. Motifnya ada yang supaya mereka bisa melindungi diri mereka dan orang-orang yang mereka cintai, supaya menjadi kaya, untuk balas dendam dan masih banyak lagi.
2)      Sudut pandang tokoh-tokoh disini bikin love and hate, kadang suka kadang benci. Itu berlaku buat tokoh protagonis ataupun antagonis. Karena selama ini ditanam mindset bahwa kita akan sangat membenci antagonis dan bersimpati pada protagonis. Aku pribadi sulit memutuskan tokoh mana yang paling aku suka, karena bisa aja suka atau benci di season satunya tapi di season berikutnya malah sebaliknya. Bener-bener mengocok emosi.
3)      Banyak hal-hal fiktif yang terlihat seperti di dunia nyata dalam film ini, seperti agama, struktur politik, istilah-istilah, bahasa, nama daratan dan benua, peta, mitos, suku dan banyak lagi.
4)      Mengangkat isu body shaming. Disini kita bisa liat gimana dunia kadang kelihatannya kejam bagi orang-orang yang tidak memiliki tubuh yang sempurna. Seperti Tyrion Lannister yang terlahir dengan tubuh kerdilnya dan Samwell Tarly dengan tubuh gemuknya sehingga membuat ayahnya tak suka padanya dan mengirimnya untuk bergabung dalam Night Watch.
5)      Wanita-wanita perkasa (yakin yang ini Indi juga setuju banget), biasanya kalau di film Epic gitu perempuan tuh ibaratnya cuma buat beranak aja dan ga boleh ambil andil dalam dunia perpolitikan. Tapi disini kok justru cewe-cewenya yang malah memimpin, dalam hal ini aku suka tokoh Cersei Lannister, walaupun antagonis tapi dia merupakan wanita yang cerdik dan taktis, ga heran kalau akhirnya dia akan menduduki Iron Throne walau ga tahu bakal sampai berapa lama.
6)      Banyak sentilan di film yang menimbulkan misteri dan konspirasi. Ini pasti ulah sutradara dan produser GoT yang emang sengaja mau bikin penontonnya mikir kemana-mana. Kadang sampai diskusi bareng Indi dan Winda (teman kami yang juga penyuka serial GoT). Berasa kayak detektif main tebak-tebakan, kira-kira siapa yang bunuh si A, atau apa motif si B berbaik-baik pada si C, apa si D yang jahat sebenarnya sayang sama si E dan begitu seterusnya. Ga heran banyak teori yang beredar di kalangan fans GoT.

Nah kira-kira begitu deh gambaran serial GoT ini dari sudut pandang aku. Buat kalian yang akhirnya tertarik buat nonton nih serial, mungkin ada baiknya rajin-rajin nengok mbah google terutama situs Wikipedia dan fandomnya. Banyak informasi yang bikin semakin mengerti jalan ceritanya. Jujur awal-awal aku nonton banyak dibikin bingung sama istilah dan orang-orangnya, tapi sekarang malah termasuk lumayan hafal. Kayaknya kalo GoT dibikin ujian sejarah, aku bakal dapat nilai bagus deh. (Ai)