Tampilkan postingan dengan label hollywood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hollywood. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2018

ARGO, Film yang Menginspirasi Saya untuk Buru-Buru Sidang Tesis

poster film asli argo
Poster film asli tapi palsu Argo (1980)
Saya sedikit kaget saat menyadari bahwa saya lebih sering menulis tentang film-film random ketimbang film favorit saya seperti Argo. Padahal, Argo adalah salah satu film penting dalam petualangan akademik saya. Berkat menonton film besutan Ben Affleck ini, saya jadi terinspirasi untuk buru-buru menggarap tesis saat kuliah dahulu. Tak hanya itu, saya juga kebelet untuk segera melewati sidang tesis, kemudian menikmati kepuasan yang paripurna saat hasilnya diprint menjadi karya ilmiah dan dijejalkan di antara rak buku di perpustakaan kampus. Tak disangka-sangka, selain menjadi ganjel rak bagian referensi di kampus, tesis ini sekarang juga sudah dibukukan.

Meski perannya yang begitu penting, tak sekalipun Argo saya beri kredit malampaui gelarnya sebagai film favorit. Bukan lantaran tidak mau menobatkan Argo menjadi ‘film paling inspiratif’ dalam hidup saya, tetapi karena dahulu saya seringkali lupa bahwa hal-hal yang kita anggap kecil seringkali yang berperan paling besar. Kini, saya yakin film yang diangkat dari memoir seorang pensiunan agen CIA berjudul The Master of Disguise ini berkontribusi membantu saya berpikir jenih di saat-saat akhir kuliah.

THE MASTER OF DISGUISE

Argo dibuka oleh demonstrasi besar rakyat dan militan Iran di depan kedutaan besar Amerika di Tehran pada tahun 1979. Menyambung aksi kudeta terhadap Kerajaan Iran, mereka menuntut agar Amerika Serikat mencabut suaka terhadap Reza Pahlevi. Dengan begitu, sang mantan Raja yang kabarnya tengah menjalani pengobatan kanker di Amerika itu bisa dipulangkan untuk diadili. Malangnya, demonstrasi di hari itu justru menjadi awal petaka bagi para diplomat Amerika.

Rakyat Iran mengepung Kedutaan Amerika di Tehran
Massa yang marah lantas menjebol pagar dan menyapu halaman kantor kedutaan Amerika. Tak butuh waktu lama sampai penjagaan di dalam kedutaan akhirnya tumbang. Militan Iran pun menyandera 52 orang diplomat Amerika yang bekerja di sana. Suasana kedutaan besar Amerika di Iran tak ayal menjadi sorotan media global dan menjadi aksi penyanderaan paling terkenal di dunia hingga kini. Akibat proses diplomasi yang alot, krisis penyanderaan di Iran ini berlangsung selama lebih dari satu tahun, dari 4 November 1979 sampai 20 Januari 1981.

Tak dinyana, beberapa saat sebelum rakyat Iran menyerbu kedutaan Amerika, enam orang pegawai kedutaan berhasil kabur dari pintu belakang. Mereka diberi perlindungan oleh Duta Besar Canada untuk Iran, Ken Taylor (Victor Garber), dan diberi julukan “houseguest” oleh pemerintah Canada. Namun, justru nyawa mereka yang paling terancam jika dibandingkan para diplomat yang disandera di kedutaan. Pasalnya, jika hal ini sampai diketahui militan Iran, keenamnya bisa dituduh sebagai mata-mata Amerika dan dibunuh di tempat. Pemerintah Amerika pun akan sangat malu dibuatnya.

Para "guesthouse" yang terjebak di Kota Tehran
Kabar kaburnya enam diplomat Amerika di Iran dengan sangat cepat tersiar di kalangan intelejen Amerika. Dibantu pemerintah Canada, Departemen Negara di Washington dengan segera menyusun rencana penyelamatan dengan memberangkatkan Tony Mendez (Ben Affleck), seorang agen pembebas sandera terbaik di CIA. Dengan mengambil nama palsu sebagai Kevin Harkins, Mendez menyusun siasat dibantu seorang make-up designer pemenang penghargaan Oscar bernama John Chambers (John Goodman) dan Lester Siegel (Alan Arkin), seorang produser film kawakan di Hollywood. Bersama-sama mereka membuat rumah produksi film palsu dan berencana membuat film fiksi ilmiah gadungan berbudget 20 juta dolar berjudul Argo. Semata-mata bertujuan untuk menyamarkan identitas enam diplomat sebagai rombongan kru film dari Canada.

Berhubung budaya perfilman Amerika Utara sudah terlalu dalam menancap di Iran bahkan sebelum masa revolusi, penyamaran produksi film Argo dibuat dengan amat sempurna. Tak hanya menyiapkan screenplay film, Mendez juga secara legal membuka kantor produksi bernama Studio Six. Ia juga menyewa Jack Kirby sebagai pembuat storyboard dan merilis sebuah konferensi pers untuk menjual berita bohong. Saking meyakinkannya rencana produksi film jadi-jadian Argo ini, kabarnya banyak penulis naskah yang terkecoh. Konon, ada 26 naskah film yang dikirimkan ke alamat kantor produser palsu tersebut, salah satunya dari Steven Spielberg.

Pers menjual berita hoax pembuatan film Argo

INSPIRASI TESIS

Jauh sebelum cintaku terhadap Argo bersemi, sudah lama saya ingin membuat penelitian ilmiah tentang sejarah film di Indonesia. Akan tetapi, ide itu tak kunjung muncul. Apa yang harus saya tulis dari sejarah film Indonesia ini? Buku-buku perfilman yang pernah saya baca sudah lebih dahulu merinci dengan detail kecenderungan perfilman kita, lalu apa yang tersisa untuk saya tulis?

Di tengah kebimbangan ini, saya pun memutuskan rehat sembari 'bertapa' menonton film. Kebetulan saya sudah lama mendengar pujian-pujian terhadap Argo, setelah film ini keluar sebagai pemenang film terbaik penghargaan Oscar pada tahun 2013. Meski demikian, ada saja alasan klasik saya untuk menghindari film yang bertutur tentang aksi agen rahasia ini: takut relalu pro-Amerika-lah, takut terlalu banyak adegan menembak sembari kebut-kebutan-lah, dll, dst.

Lagi-lagi tuduhan-tuduhan mambu saya tersebut tidak terbukti. Setelah menonton Argo, saya baru sadar kenapa film ini begitu baik. Meskipun berlatar Iran masa Revolusi Islam, Argo tidak mendeskritkan Republik Islam Iran sebagai musuh bebuyutan Amerika. Sebaliknya, Argo berhasil meyakinkan penonton bahwa kekacauan diplomatik yang terjadi di Iran sebenarnya adalah ulah Amerika sendiri. Ditambah lagi, ketegangan dalam Argo tidak dibangun dari adegan aksi dan kejar-kejaran, melainkan lebih kepada situasi intens saat penyamaran para diplomat hampir saja terkuak.

Identitas palsu yang hampir terbongkar
Sebenarnya, Argo tidak serta merta menanamkan ide judul penulisan tesis begitu saya mulai menontonnya. Ketertarikan saya terhadap Revolusi Islam dan campur tangan pemerintah dalam perfilman memang ramuan yang saya cari-cari dari film ini, namun sayangnya Argo tidak bertutur tentang hubungan keduanya. Sepanjang alur cerita Argo, kita hanya akan banyak melihat ketegangan di tingkat pemerintahan Amerika Serikat saat menghadapi konflik dan penyanderaan di dalam negara Iran. Satu-satunya dialog dalam Argo yang menyambung antara revolusi agama dengan perfilman ialah saat Tony Mendez menyamar menjadi seorang produser film untuk meminta izin syuting di beberapa landmark terkenal di Kota Tehran.

"Anda datang di saat yang sulit. Sebelum revolusi, 40% bioskop di Tehran menayangkan film pornografi. [...] Fungsi kantor ini adalah pemurnian, sekaligus mempromosikan kesenian. Saya akan mempelajari naskah (film Anda) ini atas nama Kementerian."

sejarah film seks di Indonesia
Sejarah film seks di Indonesia
Sepenggal dialog yang diucapkan oleh seorang pejabat Departemen Kebudayaan dan Bimbingan Islam kepada Mendez tersebut membuat saya sadar bahwa ternyata Iran pun pernah diserbu film-film seks dari negara-negara Barat. Kecenderungan film seks ternyata adalah penyakit akut dunia perfilman di negara manapun yang pernah diserbu kapitalisme Amerika sampai tahun 1980an. Lalu, saya pun jadi mengawang-awang, mungkinkah film-film Warkop DKI yang mengeksploitasi wilayah paha dan dada para gadis Warkop bukan sebuah kesengajaan para produser film semata.

Layaknya Iran sebelum Revolusi Islam, Indonesia pun pernah menjadi pemuja produk film seks Hollywood. Apabila kita menonton film-film Indonesia periode tahun 1970an sampai awal 1990an, tak sulit menemukan adegan ranjang-ranjangan. Di samping menjadi produk yang propuler, ada kalanya film menjadi media pemerintah melambungkan isu tertentu, salah satunya isu seks dan perkawinan. Sebaliknya, peralihan iklim politik berpotensi besar mengubah arah perfilman tersebut, seperti halnya yang sedikit disinggung dalam Argo. Berkat menonton Argo, saya pun mantap untuk menulis tesis tentang sejarah politik film seks di Indonesia. (Ind)

Minggu, 07 Oktober 2018

BIG FISH (2003), Salah Satu Karya Mengharukan dari Tim Burton

Big Fish Pic Karya Mengharukan dari Tim Burton
Official Poster Big Fish (2003)

Apabila mendengar nama Tim Burton, yang terbesit di benak kita pasti sebuah film fantasi dengan tokoh-tokohnya yang imajinatif. Begitupun ketika saya memasukan film Big Fish ke dalam movie wishlist, ada harapan besar untuk melihat salah satu keunikan dari film ini. Namun setelah selesai menonton, saya baru menyadari ada yang berbeda dengan film buatan sutradara asal Inggris itu.
Diperankan oleh beberapa pemain yang cukup sering wara wiri di perfilman Hollywood, seperti Ewan McGregor, Marion Cotillard, Helena Bonham Carter. Ada juga peran kecil yang dimainkan oleh Miley Cyrus yang saat itu masih dikenal dengan nama aslinya, yaitu Destiny Cyrus.

Sekelumit Sinopsis

Film ini mengisahkan renggangnya hubungan seorang ayah dengan putranya. Edward Bloom yang merupakan ayah dari William Bloom, sangat suka bercerita hal-hal fantastis tentang perjalanan hidupnya. Semenjak kecil, William terus dijejali dengan kisah-kisah di luar nalar yang konon pernah dialami sendiri oleh ayahnya. Namun demikian seiring dengan bertambah dewasanya Will, ia mulai menyadari bahwa semua itu hanyalah omong kosong. Will merasa, ayahnya sengaja membuat dongeng itu untuk menutupi sesuatu.
Puncak pertengkaran mereka terjadi setelah Edward mendongengkan kisah tersebut di hadapan para tamu undangan saat pesta pernikahan Will. Sejak saat itu mereka jarang berkomunikasi secara langsung selama tiga tahun. Hingga akhirnya Will mendapati kabar bahwa waktu hidup ayahnya sudah tak lama lagi. Will memutuskan untuk menemui ayahnya dan mencoba mengorek kenyataan dari cerita ayahnya.

Sudut Pandang Pribadi

Dibalik petualangan ajaib yang dialami seorang Edward Bloom, sungguh saya dulu tak pernah menyangka, bahwa genre film ini bukanlah sekedar fantasi yang biasa menjadi andalan seorang Tim Burton. Big Fish adalah film drama yang penuh dengan makna filosofis.
Banyak yang menyebutkan bahwa Edward Bloom memiliki masalah psikologis dimana ia tak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Mungkin hal itu memang benar adanya menilik dari beberapa perkataan yang pernah terlontar dari mulut Edward sendiri. Akan tetapi, saya pribadi memaknai apa yang dilakukannya merupakan cara mengajar yang unik dari seorang Ayah kepada anaknya.
Edward lebih memilih memotivasi putranya melalui kisah petualangan fantasi agar kelak ia menjalani hidup layaknya sebuah petualangan. Big fish bukanlah sebuah ikan raksasa seperti yang digambarkan dalam kilas balik perjalanan hidup Edward muda (diperankan oleh Ewan McGregor). Akan tetapi, Ikan Besar ini adalah bentuk pencapaian seseorang akan apa yang telah didambakan dan diimpikan dalam hidupnya. Air itu sendiri bisa jadi pemaknaan kehidupan yang begitu luas dan harus diarungi oleh seorang manusia. Edward Bloom menggambarkan kesuksesan hidupnya dalam kisah yang dikemas menjadi dongeng menarik bagi seorang anak.
Saat Edward tua sudah merasa tak berdaya, ia berendam dalam bak mandinya dengan penuh kesedihan dan berkata bahwa dia kekeringan. Buat saya, adegan ini merefleksikan bagaimana seorang Edward rindu menaklukan petualangan dan tantangan besar. Rasa hausnya masih begitu besar, tetapi kanker yang diderita memaksanya untuk berhenti.

Adegan Berendam di Bak Mandi

Ciri-ciri Kesuksesan Dari Edward Bloom

Kalau dulu waktu kuliah sering dengar ceramah tentang orang sukses, rasanya apa yang ada dalam diri Edward Bloom terlalu mirip dengan ciri-ciri yang sering disebutkan. Dari yang saya tangkap ada beberapa poin, yaitu:
a    1)  Optimis
b    2)  Ambisius
c    3)  Berani Menghadapi Tantangan
     Adegan: Saat menghadapi raksasa
Raksasa dari Goa Hantu
d    4) Cerdik dan Taktis
e    5)  Pantang Menyerah
     Adegan: Saat berusaha memenangkan hati Sandra Templeton
Menanam Bunga Semalaman Demi Pujaan Hati

f     6) Supel dan Mudah Berteman
     Adegan: Berteman dengan banyak orang yang ia temui di sepanjang cerita
g    7) Tak Pernah Tinggal di Zona Aman
           Adegan: Saat memutuskan meninggalkan kota Spectre

Masih banyak lagi beberapa sifat serta karakter yang ditonjolkan oleh seorang Edward Bloom dan mungkin luput dari penilaian saya. Akhir kisah film ini cukup menarik dan penuh makna buat saya pribadi. Maka dari itu, saya putuskan memasukan film ini sebagai salah satu jajaran film favorit yang ga bosan-bosannya saya putar. (Ai)

Jumat, 05 Oktober 2018

John Wick, Kisah Sulitnya Keluar dari Lingkaran Organisasi Rahasia

Official Poster
Oke, saya ngaku. Sebenarnya, awal saya membaca sinopsis John Wick saya tidak tertarik dengan film aksi kriminal satu ini. Pertama, karena saya pribadi tidak terlalu menyukai film-film aksi tembak-tembakan yang dipenuhi adegan kejar-kejaran sembari menunggang mobil. Kedua, saya sudah kenyang nonton film-film seperti James Bond, lantaran sering menampilkan karakter-karakter cewe seksi bertaring (femme fatale) yang punya love affair dengan karakter utama pria flamboyan. Di atas semua itu, nampaknya saya memang mudah kelelahan menonton film aksi dimana bumi serasa digoyang menggunakan angle kamera yang berubah-ubah.

Butuh waktu beberapa lama sampai saya sadar kalau John Wick punya ramuan khas sendiri. Ketimbang kisah jagoan yang membasmi sindikat organisasi rahasia dan jatuh hati pada mata-mata perempuan, saya melihat cerita John Wick lebih banyak berkutat pada perjuangan seorang pria keluar dari lingkaran organisasi rahasia para pembunuh bayaran yang pernah membesarkan namanya. Ramuan ini menjadikan JW selalu menarik diikuti. Sebab, penonton pun pasti ingin tahu kenapa ia bersikeras keluar dan bagaimana caranya sang pemeran utama membebaskan diri dari aturan-aturan yang berlaku di dunia kriminal kelas kakap. Ditambah lagi, JW menyuguhkan koreografi perkelahian yang menurut saya elegan, boleh dibilang seperti orang yang sedang menari sembari menembak. Tidak heran, selepas seri originalnya, John Wick: Chapter 2 digadang sebagai salah satu sequel film terbaik di tengah film-film sequel gagal dari film-film aksi kriminal terkenal, seperti Taken 2 dan 3.

John Wick 1: Kembali ke Dunia Hitam

Sesuai judulnya, JW berkisah mengenai pensiunan pembunuh bayaran legendaris The Boogeyman yang memiliki nama asli Johnathan Wick (Keanu Reeves). Masa pensiunnya terpaksa dilalui sendirian dalam duka setelah istri tercintanya sekaligus keluarga satu-satunya meninggal akibat penyakit kronis. Suatu hari, seekor anak anjing tiba di depan pintu rumahnya. Ternyata, sang istri meninggalkan wasiat untuk menghadiahi John teman anak anjing bernama Daisy agar John bisa belajar mencintai lagi dan memulai hidup baru.

John bertemu anak anjing Daisy
Sedari bagian prolog film bergenre neo-noir ini, rasanya seperti ada yang mengiris-iris bawang di depan muka saya. Siapa sangka, film yang saya kira ‘macho’ bakal dibuka dengan air mata yang berlinang-linang dari seorang pria yang tengah menggendong anak anjing. Setelah itu, John dan Daisy pun cepat akrab dan tak terpisahkan.

Malangnya, suatu malam John mendapati anak anjing kesayangannya dibunuh oleh sekelompok gangster Russia yang menyusup ke dalam rumah untuk mencuri mobil antiknya. Akibatnya, 'monster' dalam diri John Wick pun bangkit kembali untuk menuntut balas. Bagi John, segala sesuatu punya harga yang harus dibayarkan, samas seperti halnya nyawa juga harus dibayar dengan nyawa. Maka, dimulailah pengejaran John untuk membunuh Iosef Tasarov (Alfie Allen), si ketua geng Russia pembunuh Daisy.

Jalan terjal tak hentinya menghadang misi perburuan John saat terkuak bahwa Iosef si anak papa ternyata merupakan putra dari seorang ketua sindikat kriminal Russia terbesar di New York yang bernama Viggo Tasarov (Michael Nyqvist). Ini artinya, mau tidak mau John harus kembali masuk ke dalam lingkaran organisasi rahasia yang pernah mati-matian ia tinggalkan. Ia pun memulai perburuannya dengan mengunjungi kawan lamanya yang bernama Winston (Ian McShane), seorang boss sindikat yang merangkap pemilik sekaligus manajer Hotel Continental di New York.

John berhasil menembak Iosef
Uniknya, lingkaran organisasi rahasia dalam film ini ibarat dunia lain yang mirip dengan dunia biasa dengan sedikit perbedaan hukum dan sistem. Dunia kriminal ala John Wick memiliki layanan kesehatan, bengkel mobil, jasa pembersih mayat, toko senapan, penjahit baju anti peluru, bahkan penginapan untuk para pembunuh bayaran yang bernama Hotel Continental. Meskipun demikian, uang biasa tidak berlaku di sini. Sebagai gantinya mereka bertransaksi menggunakan koin emas yang tidak diketahui berapa nominal satuannya.

Saya jadi ingat tentang mata uang dunia maya yang bernama bit coin. Meskipun banyak yang mengakuinya sebagai nilai tukar yang legal, tetapi juga tidak kalah banyak digunakan para kriminal untuk bertransasksi membeli barang-barang ilegal dan jasa pembunuh bayaran di dalam ruang maya Dark Web. Menurut kabar, satuan mata uang ini cukup sulit dilacak dan memiliki nilai tukar yang besar. Satu bit coin saja konon setara dengan 100 juta rupiah.

John Wick 2: Hukum dan Hutang

Sebagaimana kisah John Wick pertama, alur cerita John Wick: Chaper 2 pun masih berputar di sekitar John Wick yang tak hentinya tersedot ke dalam kegiatan organisasi rahasia. Kali ini, John terlilit hutang pada seorang pejabat sindikat kriminal Camorra bernama Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio). Namun, bukan hutang barang atau uang tentunya. Hutang yang dimaksud ialah hutang budi.

Dahulu, agar bisa keluar dari organisasi, John meminta bantuan kepada Santino. Sebagai gantinya, John memberi Santino sebuah marker berupa compact disk bergambar tengkorak yang berisi cap darahnya sendiri. Menurut tradisi, seorang pemegang marker seperti Santino berhak meminta apapun kepada sang pemberi marker yang telah membubuhkan cap darahnya. Menolak permintaan pemegang marker artinya John sudah harus siap diburu dan eksekusi. Dengan berat hati, John pun mengiyakan permintaan Santino.

Marker bukti kesepakatan John dan Santino
Sialnya, Santino malah meminta John membunuh saudari sekaligus pesaingnya yang bernama Gianna D’Antonio (Claudia Gerini). Konflik menjadi semakin pelik dan menyulitkan bagi John, lantaran Santino malah berbalik mengejarnya dengan alasan menghormati tradisi mafia Italia yang wajib menuntut balas kematian keluarganya. Meski pembunuhan saudarinya merupakan ide Santino sendiri, ia tetap membuka perburuan kepala John Wick dengan imbalan 7 juta dolar kepada seluruh pembunuh bayaran yang berada di New York.

Dibandingkan seri pertamanya, John Wick: Chapter 2 mengeksplorasi lebih dalam hukum dan cara kerja dunia kriminal kelas kakap secara fiksional. Meskipun fiksi, sebenarnya apa yang disajikan hanya berkaca pada cara kerja organisasi rahasia di dunia nyata. Melalui Chapter 2, penonton dibawa untuk membayangkan struktur dan cara kerja organisasi rahasia seperti Freemason, sindikat kriminal Italia, dan Ordo-Ordo Kesatria di Eropa. Bahkan julukan Camorra sendiri sebenarnya julukan asli mafia Italia di Naples.

Layaknya secret society tersebut, organisasi-organisasi rahasia dalam JW juga banyak menggunakan simbol berupa tulisan atau lambang. Tak hanya simbol saja yang seringkali “disembah”, janji dan aturan pun harus selalu ditaati. Menurut Winston, setidaknya ada dua aturan sakral untuk semua anggota organisasi, yaitu tidak boleh membunuh di Hotel Continental di seluruh dunia dan setiap marker harus dihormati. Apabila melanggar salah satu aturan ini, seorang anggota organisasi sudah harus siap meregang nyawa, tidak peduli apa pangkatnya.

Winston menjelaskan dua aturan yang tidak boleh dilanggar kepada John
Dengan segala aturan tersebut, bagaimana caranya John Wick bisa benar-benar pensiun dari pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran? Yah, inilah yang menurut saya membuat film ini menjadi menarik. Ditambah lagi di penghujung Chapter 2, saking kesalnya dipermainkan, John sampai kelepasan membunuh Santino di dalam bar Hotel Continental New York. Ia pun terpaksa ditetapkan sebagai Ex-communicado oleh Winston dan diberi kesempatan selama 1 jam untuk kabur sebelum pembunuh bayaran dari seluruh dunia memburunya. Ketegangan ini akan dilanjutkan ke seri selanjutnya yang bertajuk John Wick 3: Parabellum pada tahun 2019 mendatang. Saya pun jadi tidak sabar menantinya. (Ind)

Sinopsis dan Review Singin' in the Rain (1952)

pic sinopsis and review singin' in the rain
Pose Ikonik Film Singin' in the Rain (1952)


Sinopsis Singin’ in the Rain (1952)

Film fiksi ini mengisahkan tentang Don Lockwood (diperankan oleh Gene Kelly) yang merupakan seorang aktor tenar pada akhir tahun 20an. Pada tahun tersebut, dunia perfilman masih didominasi film bisu. Untuk menjaga popularitasnya, pihak produser menginginkan Lockwood untuk menciptakan gimmick tentang hubungan asmaranya dengan lawan mainnya, yaitu Lina Lamont (diperankan oleh Jean Hagen).

Pada suatu hari saat sedang menghindari kejaran para fans, Don tidak sengaja bertemu dengan Kathy Selden (diperankan oleh Debbie Reynolds). Disebabkan suatu hal, keduanya sedikit bersitegang dan selanjutnya Kathy tak sengaja menciptakan masalah terhadap Lina. Sejak saat itu Don merasa jatuh hati kepada gadis yang ditemuinya secara kebetulan itu. Keduanya kemudian bertemu kembali dan akhirnya mulai menjalin kasih secara diam-diam dari sorotan publisitas.

image sinopsis dan review singin' in the rain
Don dan Kathy Saat Pertama Kali Bertemu
Suatu hari, R.F. Simpson (diperankan oleh Millard Mitchell) yang merupakan pemilik dari Monumental Pictures (rumah produksi ternama yang menaungi Don dan Lina) merasa terancam dengan film suara pertama “The Jazz Singer” yang menjadi big hits. Dia merasa harus melakukan pembaharuan agar produksi filmnya tak ketinggalan zaman. Sayangnya hal itu tersangkut kendala oleh sifat Lina Lamont yang buruk dan tak berbakat dalam apapun. Hal ini terlihat dari hasil sunting akhir film yang buruk dan dicemooh oleh banyak penonton

Don cukup terpuruk dengan kejadian tersebut. Bersama Cosmo Brown (Donald O'Connor) sahabatnya yang jenius dan multitalenta, serta Kathy sang kekasih, mereka mencetuskan sebuah ide untuk memperbaiki kondisi tersebut. Caranya dengan menciptakan film musikal dan Kathy menjadi dubber suara untuk Lina. Ide tersebut diterima dengan baik oleh R.F. Simpson dengan syarat Lina tak boleh mengetahui hal tersebut sama sekali. Namun, Lina akhirnya mengetahui semua itu termasuk jalinan asmara Don dengan Kathy.

Dengan segala cara Lina berhasil membungkam dan mendikte R.F. untuk menjegal karir Kathy di Hollywood. Tak hanya itu, dia juga meminta pada R.F. agar gadis pengisi suaranya itu tak pernah diberikan peran besar lagi untuk ke depannya. Ambisi Lina untuk mengendalikan keseluruhan studio semakin menjadi-jadi. Cosmo, Don dan R.F., akhirnya melakukan sesuatu agar publik mengetahui sendiri seperti apa Lina Lamont yang sebenarnya.

gambar sinopsis dan review singin' in the rain (1952)
Lina Lamont Ketawan Lipsync


Review Film

Biarpun film ini cukup jadul dan jelasnya aku belum lahir pada tahun tersebut, tapi menurutku film ini luar biasa banget. Film ini dikemas lengkap dengan menampilkan banyak unsur seperti romansa, komedi, musikal, koreografi tarian, juga sejarah perfilman dan fashion dikala itu.

Film besutan studio MGM ini benar-benar menampilkan artis yang berkualitas seperti Gene Kelly, Debbie Reynolds dan Donald O’Connor. Selain pandai berakting, ketiganya sangat jago menari dan bernyanyi. Namun begitu menurutku dari segi bakat Donald O’Connor jauh lebih menonjol, ekspresif, lincah dan sangat jenaka. Padahal perannya lebih minor, bila dibandingkan dengan Gene dan Debbie selaku pemeran utama pria dan wanita.


trio cast of singin' in the rain (1952) pic
Gene Kelly, Debbie Reynolds dan Donald O'Connor

Saking terkenalnya, film ini juga telah memberikan dampak pada pop culture. Salah satunya pada MV Paparazzi milik Girls Generation, girlband asal Korea selatan. Pada cuplikan video klip berbahasa Jepang tersebut, para member akan memasuki panggung pertunjukan satu persatu diiringi lagu Singin’ in the Rain yang dinyanyikan oleh Gene Kelly secara solo.

Entah kenapa film ini menurutku jalan ceritanya mirip sama sinetron dan ftv. Dimana dua orang pria dan wanita awalnya bertengkar kemudian jatuh cinta. Kemudian ada pesaing wanita dengan muka tembok, menyebalkan dan suka memaksakan kehendak seperti Lina Lamont. Akhir ceritanya biasanya happy ending, ditandai dengan tersingkirnya si wanita pengganggu dan bersatunya kedua tokoh utama.

Benar atau ga, aku pikir kayaknya film ini ngasih pengaruh besar terhadap sejumlah film yang diproduksi setelahnya. Mungkin karena pada tahun tersebut jalan cerita kayak gini masih unik. Tapi sepertinya ini bukan satu-satunya film yang menjadi cikal bakal alur yang mainstream dan klise.


Secuil Info Salah Satu Pemain

Debbie Reynolds dan putrinya, Carrie Fisher
Debbie Reynolds yang berperan sebagai Kathy Selden adalah ibu kandung dari Carrie Fisher, artis Hollywood yang sangat dikenal perannya sebagai Princess Leia di film franchise Star Wars. Sampai dengan rilisnya Star Wars: the Last Jedi (2017), putrinya tersebut masih turut mengambil bagian dalam film tersebut.

Namun sayang, Carrie meninggal pada 27 Desember 2016 akibat serangan jantung setelah melakukan serangkaian tur promosi film terakhirnya ini. Kabar mengejutkan kemudian disusul dengan kepergian Debbie yang meninggal pada 28 Desember 2016, tepat sehari setelah kepergian putrinya.
Kepergian keduanya yang begitu kebetulan dan mendadak membuat Hollywood berduka sekaligus terharu karenanya. Debbie yang dikenal begitu keibuan seolah senantiasa mengiringi kemanapun putrinya pergi, bahkan hingga ke peristirahatan terakhirnya.

Debbie merupakan salah satu pemeran di film Singin’ in the Rain yang paling lama hidup dibandingkan pemain lainnya seperti Gene Kelly yang meninggal pada 1996, Donald O’Connor pada 2003, Jean Hagen di tahun 1977, dan Millard Mitchell pada 1953. (Ai)